Demi menghindari risiko lebih besar dan agar bantuan bisa segera sampai ke lokasi bencana, rombongan akhirnya menyerahkan uang sebesar Rp100 ribu.
“Awalnya diminta Rp150 ribu. Kami hanya sanggup Rp50 ribu, tapi ditolak. Akhirnya kami mengalah demi keselamatan dan kelancaran misi,” jelas Rizki.
Padahal, kendaraan tersebut membawa bantuan dalam jumlah besar, di antaranya 1.250 Al-Qur’an dan Iqro, 1.000 mukena, 1.000 sajadah, 1.000 peci, 1.000 baju koko, serta 100 meter karpet untuk masyarakat Aceh Tamiang.
Bukan Soal Uang, Tapi Kemanusiaan
Bagi para relawan, peristiwa ini bukan semata soal nominal. Lebih dari itu, mereka menilai kejadian tersebut mencederai nilai kemanusiaan dan solidaritas.
“Ini bukan soal uang, tapi soal kemanusiaan. Kami hanya ingin bantuan cepat sampai ke warga yang membutuhkan,” tegas Rizki.
Peristiwa ini pun menuai keprihatinan. Di saat masyarakat Aceh masih berjuang memulihkan diri dari bencana, misi kemanusiaan justru harus melewati rintangan yang tidak seharusnya terjadi.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa empati dan dukungan terhadap aksi sosial harus dijaga, bukan justru dipersulit oleh praktik yang mencederai rasa keadilan.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad







