Kemen PPPA dan Save The Children Ajak Anak Indonesia Partisipasi Atasi Krisis Iklim
“Anak-anak adalah pewaris bumi dan mengisi sepertiga penduduk Indonesia. Jika seluruh anak memiliki literasi lingkungan dan kemampuan aksi nyata seperti para Child Campaigner Aksi Generasi Iklim, masa depan bangsa akan lebih kuat. Tugas kita bersama adalah memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang melindungi, memberdayakan, dan membuka jalan menuju Indonesia Emas 2045.” Ungkap Menteri PPPA.
Menteri PPPA menambahkan, tiga hari Peringatan Hari Anak Sedunia menegaskan bahwa anak berhak didengar, berekspresi, bermain, belajar, dan terlindungi.
"Rangkaian kegiatan dimulai 20 November dengan dialog anak tentang keamanan digital, dilanjutkan 21 November dengan pentas kreativitas anak, dan ditutup hari ini dengan ajakan bersama untuk menjaga bumi melalui aksi iklim yang dimulai dari diri sendiri dan menginspirasi teman lainnya,” ujar Menteri PPPA.
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, menegaskan bahwa anak merasakan langsung dampak krisis iklim. “Krisis iklim bukan isu masa depan ini terjadi hari ini. Anak-anak siap memimpin aksi iklim dan suara mereka harus diterjemahkan menjadi kebijakan nyata.” ujar CEO Save The Children.
Riset Save the Children Indonesia 2025 juga mencatat bahwa anak perempuan menghadapi beban ganda mulai dari meningkatnya beban domestik pascabencana hingga keterbatasan akses air bersih dan sanitasi.
Meski demikian, anak perempuan menunjukkan kapasitas adaptasi yang kuat dan menjadi agen penting dalam ketahanan iklim.
Pertunjukan “Aku, Kamu, Kita adalah Bumi” menjadi sarana bagi anak-anak untuk menyampaikan perspektif mereka mengenai krisis iklim sekaligus memperkuat ruang partisipasi anak. Kegiatan ini merupakan bagian dari Kampanye Nasional Aksi Generasi Iklim yang sejak 2022 dipimpin oleh anak dan orang muda untuk memastikan komunitas paling terdampak dapat beradaptasi, serta mendorong kebijakan iklim yang berpusat pada anak.