Terungkap di Sidang: Saksi Benarkan Pemotongan Bonus Atlet NPC HSU, Uang Mengalir ke Pengurus
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pemotongan bonus atlet dan pelatih National Paralympic Committee (NPC) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) kembali memanas di Pengadilan Tipikor pada PN Banjarmasin, Sabtu (7/11/2025) sore.
Dalam agenda pembuktian itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan tujuh saksi, termasuk staf internal NPC HSU.
Salah satu saksi kunci, Alfi Rosadi, membenarkan adanya pemotongan bonus sebesar 15 persen yang dilakukan terhadap atlet dan pelatih peraih medali di ajang Pekan Paralympic Daerah (Peparprov) Kalsel 2022.
“Sebelum dipotong, semua atlet dan pelatih dikumpulkan, lalu diberi tahu soal pemotongan itu. Besarannya 15 persen dan saat itu disetujui,” ujar Alfi dalam kesaksiannya di hadapan Majelis Hakim.
Meski disebut “atas dasar kesepakatan,” hasil audit BPKP justru mengungkap bahwa uang hasil potongan tersebut tak digunakan untuk kepentingan organisasi, melainkan mengalir ke kantong pribadi sejumlah pengurus.
Dua terdakwa yang kini duduk di kursi pesakitan adalah Saderi dan Febrianty Rielena Astuti, keduanya mantan pengurus NPC HSU. Berdasarkan hasil penyidikan, total dana yang diduga diselewengkan mencapai sekitar Rp 330 juta.
Modusnya, pemotongan dilakukan bervariasi tergantung cabang olahraga, dengan alasan “kontribusi untuk organisasi.” Namun, hasil audit menunjukkan uang justru mengalir ke delapan pengurus NPC HSU, termasuk bendahara, wakil bendahara, dan staf. Dari jumlah itu, Saderi dan Febrianty menerima bagian terbesar, masing-masing sekitar Rp 75 juta.
Sidang yang dipimpin oleh Majelis Hakim Dedy Arias itu akhirnya ditunda dan akan kembali digelar pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi tambahan.
Atas perbuatannya, kedua terdakwa didakwa melanggar Pasal 2 Ayat (1) Jo Pasal 18 dan Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) — dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia olahraga disabilitas, di mana perjuangan atlet justru dinodai oleh tangan-tangan yang semestinya melindungi mereka.(Wartabanjar.com/Frans)
editor: nur muhammad