Tak hanya para pria, ibu-ibu nelayan juga ikut memadati pantai sambil membawa spanduk penolakan.
Beberapa tulisan terbaca:
“Tolak Survei Migas Petronas, Laut Milik Nelayan!”
“Laut untuk Anak Cucu Kami, Bukan untuk Asing!”
Mereka menegaskan bahwa laut adalah sumber kehidupan utama masyarakat pesisir dan menolak segala aktivitas yang berpotensi merusaknya tanpa ada kesepakatan yang adil.
Para nelayan menuntut pemerintah dan pihak Petronas segera memberikan kepastian hukum dan kompensasi layak bagi warga yang terdampak.
Mereka juga meminta agar aktivitas survei dihentikan sementara hingga kesepakatan bersama tercapai.
“Kami akan terus aksi, turun ke laut setiap hari kalau tidak ada tanggapan. Jangan sampai laut kami dirampas atas nama investasi,” ujar seorang nelayan lainnya.
Insiden ini menjadi sorotan publik dan menambah daftar panjang konflik antara nelayan lokal dan perusahaan migas asing di perairan Indonesia.(Wartabanjar.com/Berbagai Sumber)
editor: nur muhammad







