Langkah Banjarbaru Tangani Stunting, Dimulai dari Calon Pengantin Hingga Balita

“Kita pastikan bayi hingga usia lima tahun terpantau dengan baik agar tidak ada yang luput dari perhatian tenaga kesehatan,” ujarnya.

Maulidah menekankan pentingnya masa golden age bagi tumbuh kembang anak. “Orang tua harus benar-benar memanfaatkan masa emas ini, karena setiap fase pertumbuhan sangat menentukan masa depan anak,” tambahnya.

Terkait kasus ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK), Maulidah menilai kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko lahirnya anak stunting. Karena itu, fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes) terus diminta melakukan intervensi dini untuk mencegah dampak lebih lanjut.

Namun, menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Banjarbaru tahun 2024 tercatat sebesar 15,4 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 12,4 persen.

Meski demikian, Maulidah mengatakan angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan rata-rata Provinsi Kalimantan Selatan maupun nasional.

“Hingga September 2025 kita mencatat angka prevalensi sementara sebesar 10,32 persen. Harapannya angka ini tidak kembali meningkat dan terus menurun di tahun mendatang,” pungkasnya. (wartabanjar.com/IKhsan)

Editor Restu