KISAH Tim Relawan Anggrek Saat Mencari Heli Jatuh: Menembus Hutan, Melawan Dingin, hingga Histeris Lihat Ekor BK117-D3

WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Hutan Mentewe yang dingin dan curam itu menjadi saksi bisu keberanian Tim Relawan Anggrek. Mereka adalah orang-orang pertama yang menemukan bangkai helikopter BK117-D3 milik Eastindo yang jatuh di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Rabu (3/9/2025).

Namun, di balik keberhasilan itu, tersimpan kisah tentang tubuh yang hampir menyerah, mental yang diuji habis-habisan, dan momen haru ketika akhirnya potongan ekor helikopter ditemukan.

Eko Subiyantoro, koordinator tim, masih mengingat betul bagaimana perjalanan itu dimulai. Tanpa sarapan, mereka menembus hutan dengan jalur menanjak hampir 45 derajat. Nafas tersengal, kaki gemetar, dan keringat bercucuran di tengah udara dingin yang menusuk.

“Kalau berhenti, bisa jatuh. Kalau mundur, artinya meninggalkan tugas. Jadi satu-satunya pilihan ya maju,” tutur Eko dengan suara bergetar.

Setiap langkah terasa seperti pertaruhan nyawa. Semakin ke atas, hawa dingin makin menggigit. Vegetasi penuh lumut membuat jalur licin, hingga ada anggota yang hampir tergelincir.

Dingin yang Menghantam Mental

Malam di hutan membuat semua lebih berat. Suhu turun drastis, hingga tulang serasa membeku. Tim terpaksa mendirikan flying camp seadanya, hanya beralaskan tanah basah dan atap darurat dari plastik.

“Dingin sekali, rasanya kalau sampai malam di puncak bisa mati kedinginan,” kenang Eko.

Di tengah gelapnya malam, sebagian anggota hanya bisa berbaring sambil menahan lapar. Meski begitu, semangat mencari korban tetap menjadi api yang menjaga mereka tetap terjaga.

Rabu siang, tim kembali melanjutkan perjalanan menuruni lereng curam lebih dari 50 derajat. Jalan setapak hampir tak terlihat, hanya semak lebat dan jurang di sisi kanan-kiri.