DERITA DI GUNUNG LUMUT! Relawan Anggrek Bertaruh Nyawa Temukan Bangkai Heli Maut di Tanbu
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Dingin yang menusuk tulang, jalur curam penuh lumut, dan rasa lapar yang mendera. Itulah medan yang harus ditembus Tim Relawan Anggrek saat mencari helikopter BK117-D3 milik Eastindo yang jatuh di Hutan Lindung Desa Emil Baru, Kecamatan Mantewe, Tanah Bumbu.
Koordinator tim, Eko Subiyantoro, menyebut jalur pencarian bukan sekadar sulit, tapi benar-benar menguji nyali.
“Di Gunung Lumut itu dinginnya minta ampun. Kalau sampai bermalam tanpa persiapan, bisa bahaya bagi nyawa kami,” ucapnya lirih.
Medan licin, tanjakan mencapai 45 derajat, serta vegetasi lumut tebal membuat setiap langkah seperti bertaruh hidup-mati. Relawan harus mengesot, merangkak, bahkan berpegangan pada akar pohon agar tidak terperosok ke jurang.
Eko menuturkan, ada dua pilihan yang menghantui pikiran: mundur berarti meninggalkan tugas, maju berarti mempertaruhkan nyawa.
“Teman-teman memilih maju. Semangat mereka jadi momentum besar bagi saya sebagai orang tertua di tim,” ungkapnya.
Saat Ekor Helikopter Ditemukan
Setelah menembus medan berbahaya, tepat pukul 14.25 WITA, salah satu anggota bernama Gisang memastikan koordinat terakhir. Tak lama kemudian, samar-samar terlihat warna putih di balik pepohonan lebat.
“Awalnya dikira terpal, ternyata ekor helikopter,” kata Eko.
Namun, rasa haru itu bercampur getir. Di sekitar puing, ditemukan korban dalam kondisi tertelungkup di atas badan heli yang sudah hancur dan terbakar.
“Perkiraan ada tiga korban di badan heli, semua sudah meninggal dunia. Di bagian bawah, kami temukan lagi satu korban dengan kaki patah,” jelasnya dengan suara tercekat.
Momen Sunyi di TKP
Tim melakukan dokumentasi, mengumpulkan barang berharga korban, lalu menyerahkan lokasi kepada Basarnas, TNI, dan Polri yang tiba tak lama kemudian. Malam itu, sekitar 50 orang bermalam di lokasi, dari tim SAR, relawan, hingga warga setempat.
Eko mengingatkan agar penemuan seperti ini tidak dirayakan berlebihan. “Kalau sampai euforia, justru bisa berbahaya. Sedikit saja salah langkah, bisa berubah dari operasi SAR jadi rescue to rescue,” tegasnya.
Turun gunung tak kalah sulit. Relawan harus merayap perlahan, sementara tubuh sudah letih total. Hingga akhirnya terdengar gonggongan anjing dari kejauhan—pertanda desa sudah dekat.
“Begitu lihat kelap-kelip strobo mobil penjemput, kami balas dengan senter. Ada rasa lega yang luar biasa, akhirnya kami sampai di titik penjemputan,” kenang Eko.
Bagi Tim Anggrek, penemuan ini bukan sekadar operasi pencarian. Itu adalah bukti nyata pengorbanan fisik, mental, dan rasa kemanusiaan yang menyatukan relawan, aparat, dan masyarakat dalam misi yang sama: memberi kepastian bagi keluarga korban.(wartabanjar.com/IKhsan)
editor: nur muhammad