Hujan di Kalsel Bukan Alami, ini Penjelasan BMKG


‎”OMC mempercepat pembentukan awan menjadi hujan, dan beberapa hari terakhir kondisi atmosfer di Kalsel memang sangat mendukung terjadinya hujan,” ujar Arif, saat dikonfirmasi,Rabu (20/8/2025) malam.

‎Selain OMC, sejumlah fenomena atmosfer juga turut memperkuat potensi hujan di wilayah Kalimantan Selatan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang saat ini berada di fase 3 meningkatkan peluang hujan di bagian barat Indonesia.

‎”Ditambah lagi dengan keberadaan gelombang atmosfer seperti Mixed-Rossby Gravity dan Gelombang Kelvin, yang semakin mendorong pertumbuhan awan hujan,” lanjut Arif.

‎Tak hanya itu, adanya anomali positif pada Outgoing Longwave Radiation (OLR) juga menjadi indikator kuat meningkatnya aktivitas pembentukan awan.

‎Arif menambahkan, sirkulasi siklonik yang terbentuk di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra turut memicu perubahan pola angin, termasuk perlambatan dan pembelokan arah angin yang mempermudah terbentuknya awan hujan.

‎”Secara keseluruhan, hujan yang turun merupakan gabungan antara hasil rekayasa cuaca dan dukungan dari kondisi atmosfer yang memang sedang aktif,” jelasnya.

‎Meskipun demikian, masyarakat tidak perlu khawatir. Arif menegaskan hujan hasil dari modifikasi cuaca ini masih tergolong ringan hingga sedang dan tidak membahayakan.

‎Lebih lanjut, OMC dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau, terutama untuk menambah cadangan air dan mengurangi potensi bencana seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta banjir akibat hujan ekstrem.

‎”Tujuan utama OMC saat ini adalah mengarahkan hujan ke wilayah-wilayah yang rentan karhutla agar risiko kebakaran bisa ditekan,” paparnya.

‎Dalam beberapa hari ke depan, Arif memperkirakan cuaca di wilayah Kalimantan Selatan umumnya berawan dengan kemungkinan hujan ringan.

‎”Terutama di daerah Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tanah Bumbu, dan Balangan,” pungkasnya. (wartabanjar.com/IKhsan)

Editor Restu