KISAH "PENJAGA LANGIT" DI PELAIHARI! Pakde Luluk, Pawang Hujan Veteran di Upacara 17 Agustus
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Hujan deras sempat mengguyur Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Minggu (17/8/2025). Langit murung seakan menantang khidmatnya peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di halaman Kantor Bupati.
Namun, ajaibnya, saat detik-detik apel penurunan bendera dimulai, hujan reda. Langit seolah memberi restu, membuat upacara berjalan lancar dan penuh khidmat.
Di balik fenomena itu, ada sosok senyap yang dipercaya ikut menjaga jalannya acara—Pakde Luluk, pawang hujan berusia 68 tahun yang sudah puluhan tahun mengabdikan diri dalam profesi unik nan penuh misteri.
BACA JUGA:MOMEN Presiden Prabowo Ikut Bergoyang di Istana Merdeka, Lagu “Tabola Bale” Jadi Populer di HUT ke-80 RI
Jejak Hidup Sang Penjaga Langit
Nama lengkapnya Luluk Wibowo, lahir di Banyuwangi, 2 April 1958. Sejak muda ia sudah menapaki jalan spiritual hingga dipercaya memiliki kemampuan mengendalikan cuaca.
“Awalnya mimpi, bukan background pondok. Yakin ini anugerah dari Yang Maha Kuasa,” tutur Pakde Luluk.
Latar belakang militernya juga menambah warna dalam perjalanan hidupnya. Ia anak dari Peltu Radino, prajurit TKR (cikal bakal TNI) dari Brawijaya, dan ibunya Warinem dari Madiun. Meski lahir di keluarga militer, takdir membawanya menjadi penjaga hujan.
Sejak 1982, Pakde Luluk berpindah-pindah tugas: mulai dari Korem, Rindam, hingga Polda Banjarmasin, sebelum akhirnya menetap di Pelaihari, Gunung Makmur. Kini ia tinggal di sekitar Pasar Jalan Gembira dan tetap aktif sebagai pawang hujan.
Filosofi & Prinsip: “Tidak Boleh Mematok”
Meski jasanya kerap dipakai untuk acara penting, Pakde Luluk tak pernah menentukan tarif.
“Enggak boleh mematok. Biasanya seikhlasnya, kadang ada yang kasih Rp500 ribu,” jelasnya.
Peralatan yang ia gunakan pun sederhana: dupa dan rokok yang ia sediakan sendiri. Bagi Pakde Luluk, ini bukan soal uang, melainkan amanah spiritual yang harus dijalankan.
Pawang Hujan di Era Modern
Di tengah modernisasi dan teknologi cuaca, kisah Pakde Luluk jadi pengingat bahwa kearifan lokal dan keyakinan tradisi masih punya tempat di hati masyarakat. Ia percaya bahwa semua yang ia lakukan hanyalah perantara, sementara kuasa tertinggi tetap milik Tuhan.
Dengan khidmat, Pakde Luluk melanjutkan pengabdiannya, menjaga agar setiap perayaan besar, termasuk HUT RI ke-80, tetap berjalan lancar tanpa halangan hujan badai.(Wartabanjar.com/Gazali)
editor: nur muhammad