VIRAL! Film Animasi “Merah Putih: One For All” Berbudget Rp6,5 M Tuai Kritik Pedas,Netizen: Bagusan Unyil!
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM – Film animasi “Merah Putih: One For All” tengah menjadi perbincangan panas di media sosial. Diproduksi oleh Perfiki Kreasindo dengan produser eksekutif Sonny Pudjisasono, film berdurasi sekitar 70 menit ini menghabiskan anggaran Rp6,5 miliar dan mulai dikerjakan sejak Juni 2025.
Namun, setelah trailer resmi dirilis, muncul gelombang kritik dari netizen yang mempertanyakan kualitas grafis animasi tersebut. Produser Toto Soegriwo menanggapi komentar-komentar itu lewat akun Instagram pribadinya. Dengan nada santai, Toto menyebut bahwa kritik tersebut justru membuat postingannya viral dan memberi manfaat dari sisi promosi.
BACA JUGA:DATA LENGKAP Korban Kebakaran di Pelambuan Versi BPBD Banjarmasin: RT 55 Ada 17 Rumah & RT 59 Ada 6
Komentar Netizen: Pedas Tapi Kocak
Meski ada yang membela, tak sedikit warganet yang melontarkan kritik dengan gaya nyinyir hingga sarkas. Berikut beberapa komentar yang ramai dibicarakan:
"Bagusan grafik kartel Meksiko"
"Enam koma lima EM 🔥"
"Bagusan Unyil 😂"
"Tapi hasilnya bagus loh… hasil korupsi dananya kelihatan 😂"
"Serius 6,5 M?"
"6,5 beli karakter & latar belakang, suara AI-nya nggak nyambung 😂"
"Lebih bagusan grafik Keluarga Somat 😂😂"
"Murahnya kelihatan banget"
"Sedang menunggu info korupsi di animasi One For All wkwk"
"Kartun India kah?"
"Bikin sakit mata"
"Mendingan Adit"
Komentar-komentar ini memicu perdebatan antara warganet yang menghujat dan mereka yang menganggap film ini perlu diapresiasi karena mengangkat tema nasionalisme.
Tentang Film
“Merah Putih: One For All” mengisahkan petualangan tokoh-tokoh muda Indonesia dalam menghadapi ancaman yang menguji persatuan bangsa. Meski detail ceritanya belum banyak terungkap, pihak produser berharap film ini menjadi kebanggaan karya anak negeri di kancah perfilman animasi.
Reaksi Produser
Toto Soegriwo menegaskan bahwa pihaknya tidak anti-kritik. Ia menganggap semua komentar, baik positif maupun negatif, adalah bagian dari proses kreatif. “Kalau ramai diperbincangkan, berarti ada perhatian. Justru itu bagus,” ujarnya.
Fenomena ini membuktikan bahwa di era media sosial, sebuah karya bisa mendapatkan sorotan besar bukan hanya dari kualitasnya, tetapi juga dari reaksi publik yang beragam. Apakah kontroversi ini akan membuat penonton justru penasaran? Jawabannya akan terlihat saat film ini tayang di bioskop.(Wartabanjar.com/tanahbumbuinfo/berbagai sumber)
editor: nur muhammad