Viktor Axelsen Mundur dari Kejuaraan Dunia 2025, Apa Alasannya?
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Juara dunia dua kali Viktor Axelsen resmi mengundurkan diri dari Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2025 yang akan berlangsung di Paris, Prancis, pada 25–31 Agustus mendatang. Keputusan ini diumumkan menyusul proses pemulihan cedera punggung yang belum sepenuhnya tuntas pascaoperasi yang dijalani pada April lalu.
Melalui pernyataan resmi yang dikutip dari media Denmark dan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Axelsen menegaskan bahwa meskipun keinginannya untuk tampil sangat besar, kondisi fisiknya belum memungkinkan untuk bersaing di level tertinggi.
“Saya telah bekerja keras dalam masa pemulihan, namun saya harus mendengarkan tubuh saya. Kejuaraan Dunia adalah salah satu turnamen terpenting, tetapi saat ini kesehatan saya lebih utama,” ujar Axelsen.
Cedera punggung telah menjadi masalah berulang bagi Axelsen dalam beberapa musim terakhir. Setelah menjalani operasi pada April 2025, ia sempat kembali berlatih ringan, namun tim medisnya menyarankan untuk tidak mengambil risiko lebih lanjut, terutama menjelang Olimpiade Paris 2028 yang menjadi target jangka panjangnya.
Dampak Besar bagi Denmark dan Peta Persaingan
Pengunduran diri pemain peringkat satu dunia ini menjadi pukulan bagi tim Denmark yang kehilangan ujung tombak mereka di sektor tunggal putra. Axelsen merupakan andalan utama Eropa dalam menghadapi dominasi pemain Asia seperti Jonatan Christie, Anthony Ginting, dan Kodai Naraoka.
Di Kejuaraan Dunia sebelumnya, Axelsen melaju hingga semifinal sebelum dikalahkan oleh Kunlavut Vitidsarn asal Thailand. Gelar terakhirnya di ajang ini diraih pada tahun 2022 di Tokyo.
Cedera Punggung: Ancaman Nyata Bagi Karier Axelsen?
Cedera punggung yang menimpa Axelsen bisa menjadi sinyal peringatan akan fase transisi dalam kariernya. Di usia 31 tahun, pemain asal Odense itu kini harus berhati-hati dalam mengatur jadwal turnamen agar tak memicu cedera kambuhan.
Pengunduran dirinya dari Kejuaraan Dunia juga membuat perburuan gelar di sektor tunggal putra menjadi lebih terbuka. Pemain seperti Loh Kean Yew, Jonatan Christie, dan Shi Yu Qi kini memiliki peluang lebih besar untuk mencetak sejarah. (Berbagai sumber/Aar)
Editor: Andi Akbar