Ayahnya, Eddie Radford (52), mengaku kaget dan tidak menyangka pesan itu adalah pertanda aksi tragis.
“Dia sempat mengeluh soal diskriminasi rasial di markas dan sedang mengurus pemindahan tugas,” kata sang ayah kepada The New York Times.
Meski tidak memiliki riwayat gangguan jiwa yang serius, Radford pernah mengalami depresi sejak kehilangan ibunya di usia kecil.
Motif Belum Diketahui, Riwayat Hukum Pernah Mabuk dan Tabrak Lampu Merah
Hingga kini, motif penyerangan masih menjadi misteri. Pihak militer menyatakan bahwa Radford tidak pernah ditugaskan ke zona perang dan tidak memiliki catatan pelanggaran disiplin berat.
Namun, catatan pengadilan menunjukkan ia pernah didakwa atas pelanggaran lalu lintas dan mengemudi dalam keadaan mabuk. Sidangnya dijadwalkan berlangsung 20 Agustus mendatang.
“Kami belum tahu alasan pasti pelaku melakukan hal ini,” kata Brigjen Lubas. “Kami juga masih menyelidiki bagaimana senjata bisa masuk ke zona militer yang seharusnya steril.”
Komunitas Militer Terpukul: “Ada Apa di Balik Seragam Itu?”
Di kota kecil Hinesville yang berada di dekat Fort Stewart—dan dikenal sebagai kota para veteran—insiden ini menyisakan luka mendalam.
Edward Dermody (62), seorang pensiunan Angkatan Laut, mengungkapkan keprihatinannya.
“Bagaimana mungkin seorang sersan bisa menembak rekan satu timnya sendiri? Ada apa sebenarnya di balik lingkungan itu?” tuturnya penuh emosi.
Penyelidikan kini dilakukan oleh Army Criminal Investigation Division dengan dukungan penuh dari FBI kantor Savannah. Fokus utama saat ini adalah mengungkap motif, kondisi psikologis pelaku, serta meninjau ulang sistem keamanan di pangkalan militer tersebut.(Wartabanjar.com/BreakingItalyNe/kompas/berbagai sumber)
editor: nur muhammad







