WARTABANJAR.COM, GEORGIA - Pangkalan militer Fort Stewart di Georgia, Amerika Serikat, berubah menjadi medan horor usai seorang sersan aktif tiba-tiba menembaki lima rekan satu unitnya sendiri, Rabu (6/8/2025). Insiden berdarah ini mengejutkan komunitas militer dan memicu penyelidikan besar-besaran oleh otoritas militer dan FBI. Pelaku diidentifikasi sebagai Sersan Quornelius Radford (28) dari Tim Tempur Brigade ke-2, Divisi Infanteri ke-3. Ia dilaporkan menggunakan pistol pribadi—bukan senjata resmi militer—saat melancarkan aksi brutal di dalam kompleks markas. 5 Prajurit Terluka, 3 Jalani Operasi Akibat aksi penembakan mendadak ini, lima tentara menderita luka tembak serius. Ketiganya telah menjalani operasi darurat, sementara dua lainnya mendapat perawatan intensif. Saat ini, kelimanya dilaporkan dalam kondisi stabil. "Pelaku berhasil dilumpuhkan oleh prajurit lain yang bertindak cepat, mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak," ungkap Brigadir Jenderal John Lubas, Komandan Divisi Infanteri ke-3 dalam konferensi pers. BACA JUGA:Catat! Jadwal Kalsel Expo 2025 Hadirkan 220 Stand di Perkantoran Pemprov Kalsel Radford kini berada dalam tahanan militer dengan status pra-persidangan dan tengah diperiksa secara intensif oleh penyidik. Pangkalan Langsung Dikunci, Tentara Panik Cari Perlindungan Sekitar pukul 11.00 siang waktu setempat, Fort Stewart langsung dikunci total. Prajurit dan staf diperintahkan berlindung secepatnya. Shane Labbe, prajurit muda berusia 21 tahun yang bertugas sebagai mekanik tank, memilih berlindung di gudang senjata bersama beberapa rekannya. "Itu tempat paling aman," ujar Robert Labbe, ayah Shane, dalam wawancara dari Connecticut. "Saya bilang, 'Setidaknya kamu bisa bela diri kalau penembak masuk ke sana.'" Pesan Aneh Sebelum Menembak Beberapa jam sebelum insiden, Radford dilaporkan mengirim pesan misterius kepada bibinya. Dalam pesan itu, ia menulis bahwa ia mencintai keluarganya dan akan "segera berada di tempat yang lebih baik karena akan melakukan sesuatu." Ayahnya, Eddie Radford (52), mengaku kaget dan tidak menyangka pesan itu adalah pertanda aksi tragis. “Dia sempat mengeluh soal diskriminasi rasial di markas dan sedang mengurus pemindahan tugas,” kata sang ayah kepada The New York Times. Meski tidak memiliki riwayat gangguan jiwa yang serius, Radford pernah mengalami depresi sejak kehilangan ibunya di usia kecil. Motif Belum Diketahui, Riwayat Hukum Pernah Mabuk dan Tabrak Lampu Merah Hingga kini, motif penyerangan masih menjadi misteri. Pihak militer menyatakan bahwa Radford tidak pernah ditugaskan ke zona perang dan tidak memiliki catatan pelanggaran disiplin berat. Namun, catatan pengadilan menunjukkan ia pernah didakwa atas pelanggaran lalu lintas dan mengemudi dalam keadaan mabuk. Sidangnya dijadwalkan berlangsung 20 Agustus mendatang. "Kami belum tahu alasan pasti pelaku melakukan hal ini," kata Brigjen Lubas. "Kami juga masih menyelidiki bagaimana senjata bisa masuk ke zona militer yang seharusnya steril." Komunitas Militer Terpukul: "Ada Apa di Balik Seragam Itu?" Di kota kecil Hinesville yang berada di dekat Fort Stewart—dan dikenal sebagai kota para veteran—insiden ini menyisakan luka mendalam. Edward Dermody (62), seorang pensiunan Angkatan Laut, mengungkapkan keprihatinannya. "Bagaimana mungkin seorang sersan bisa menembak rekan satu timnya sendiri? Ada apa sebenarnya di balik lingkungan itu?" tuturnya penuh emosi. Penyelidikan kini dilakukan oleh Army Criminal Investigation Division dengan dukungan penuh dari FBI kantor Savannah. Fokus utama saat ini adalah mengungkap motif, kondisi psikologis pelaku, serta meninjau ulang sistem keamanan di pangkalan militer tersebut.(Wartabanjar.com/BreakingItalyNe/kompas/berbagai sumber) editor: nur muhammad