Secara spesifik, Bupati menyoroti akar permasalahan sosial yang sering memicu konflik di masyarakat, yaitu perasaan ketidakadilan.
Menurutnya, ketidakadilan adalah pemicu utama konflik horizontal di berbagai daerah, bahkan hingga ke tingkat desa.
“Aceh ribut karena merasa tidak adil, Papua juga demikian. Maka, jika kita bisa hadir dan memastikan rasa keadilan di tengah masyarakat, saya yakin konflik bisa dicegah sejak dini,” tegasnya.
Ia juga menyinggung penyalahgunaan narkotika, khususnya sabu-sabu, yang marak di kalangan operator alat berat dan nelayan. Bupati berpendapat bahwa penggunaan narkoba ini sering kali didasari oleh persepsi keliru bahwa zat tersebut dapat meningkatkan stamina kerja.
“Kita tidak bisa serta-merta menyalahkan mereka. Tapi kita juga tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Kita perlu memberikan solusi alternatif, edukasi, dan pendekatan yang manusiawi,” pintanya.
Menutup arahannya, Bupati Rahmat Trianto menyerukan agar seluruh elemen Forkopimda, termasuk tokoh masyarakat, tetap solid dan menjalankan perannya sesuai bidang masing-masing, sebagaimana amanat langsung dari Presiden RI.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan bersama hanya bisa diraih melalui kerja tim yang solid.
“Saya tekankan kembali bahwa tidak ada satupun dari kita yang bisa berjalan sendiri. Kita ini satu kesatuan sistem. Ketika satu bagian lemah, maka akan memengaruhi bagian lain,” ucapnya.
Bupati berharap Forkopimda tidak hanya menjadi forum seremonial, tetapi wadah nyata untuk pengabdian dan kerja nyata bagi rakyat, menghindari jebakan sekat institusi dan jabatan.
“Keberhasilan kita bukan diukur dari seberapa banyak rapat yang kita gelar, tapi dari seberapa besar dampak yang kita hasilkan untuk masyarakat,” pungkasnya, menekankan pentingnya aksi nyata di atas sekadar slogan. (Gazali)
Editor Restu







