WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Dinas Perdagangan (Disdag) Kalsel melakukan investigasi sekitar 10 hari lalu untuk mengecek keberadaan beras oplosan yang ramai terjadi di pulau Jawa.
Pengecekan dimulai di sejumlah pasar tradisional. Hasil awal menunjukkan bahwa beras oplosan belum ditemukan di pasar tradisional di Kalimantan Selatan.
Namun, temuan berbeda ditemukan di toko ritel modern. Hal tersebut diungkap Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Ahmad Bagiawan.
Baca Juga
BMKG: Puncak Kemarau Kalsel Agustus 2025, Waspada Potensi Karhutla Meningkat Drastis
“Kami menemukan tiga merek beras kemasan yang diduga tidak sesuai dengan informasi di label. Sampel dari ketiga merek ini kami bawa ke Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) di Banjarbaru untuk dilakukan pengujian,” ungkap Bagiawan.
Hasil uji menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara label dan isi kemasan, menguatkan dugaan beras oplosan.
Meski demikian, Gia sapaan akrabnya menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan. Hal ini dikarenakan karakteristik konsumsi beras masyarakat Banua cukup spesifik.
“Mayoritas masyarakat Banjar tidak menyukai beras pulen yang umumnya menjadi target beras oplosan. Warga kita terbiasa dengan beras lokal, atau dalam istilah Banjar disebut beras karau,” tambahnya.
Data Dinas Perdagangan menunjukkan bahwa produksi gabah lokal Kalimantan Selatan mencapai 1 juta ton per tahun, yang bila dikonversi menjadi beras sekitar 550 ribu ton. Sementara kebutuhan konsumsi hanya sekitar 450 ribu ton, sehingga terjadi surplus 100 ribu ton yang umumnya disalurkan ke provinsi tetangga seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

