WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Warga RT 48 Komplek Wengga Tahap V, Kelurahan Guntung Manggis, Banjarbaru, sukses menyulap lahan tidur menjadi kebun produktif yang kini panen cabai setiap dua hari sekali. Inisiatif luar biasa ini dipelopori oleh warga secara mandiri, dengan memanfaatkan lahan tak terpakai seluas 3,5 hektare melalui sistem pinjam-pakai antarwarga. Dari kebun tersebut, tumbuh subur aneka komoditas seperti cabai, tomat, terong, bawang merah, bawang putih, hingga pepaya. BACA JUGA:Bongkar Pabrik HP Ilegal di Cengkareng! iPhone Rakitan dari Limbah Dijual Seperti Baru Ketua RT 48, Nanang Setiawan, menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar upaya menambah pasokan pangan warga, tetapi juga langkah strategis untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rawan terjadi saat musim kemarau. “Masih banyak lahan yang dibiarkan terbengkalai. Ketika musim kering tiba, risiko kebakaran meningkat. Dengan dimanfaatkan untuk pertanian, kita bisa mencegah itu,” ujar Nanang saat ditemui, Selasa (29/7/2025). Untuk sistem penanaman, warga menerapkan metode tumpang sari, yang memungkinkan berbagai tanaman tumbuh berdampingan secara efisien, memperkaya hasil panen dan menjaga kesuburan tanah. Melihat manfaat besar dari program ini, RT setempat berencana memperluas lahan tanam hingga 5 hektare tambahan, bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarbaru. Cabai Dipanen Tiap Dua Hari! Tak hanya memanfaatkan lahan kosong, program ini juga memberi dampak langsung bagi warga. Hasil panen cabai yang mencapai 60–70 kilogram setiap dua hari boleh diambil secara gratis untuk konsumsi rumah tangga. “Warga boleh ambil untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau untuk dijual dalam jumlah besar, baru ada harga khusus,” pungkas Nanang. Langkah nyata RT 48 ini menjadi inspirasi bagaimana pertanian urban dapat menjadi solusi bersama untuk ketahanan pangan, lingkungan, hingga ekonomi warga. Banjarbaru kini tak hanya dikenal sebagai kota pendidikan, tapi juga mulai tumbuh sebagai kota pertanian mandiri berbasis komunitas.‎(Wartabanjar.com/IKhsan) editor: nur muhammad