SDN 1 Mandingin HST Kekurangan Murid, Hanya Ada 1 Pendaftar Tahun ini

WARTABANJAR.COM, BARABAI– Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Mandingin di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) tahun ini hanya mendapat satu pendaftar saat Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2025/2026.

Kondisi ini membuat pihak sekolah harus berjuang ekstra agar kegiatan belajar tetap berjalan.

Kepala Sekolah SDN 1 Mandingin yang juga ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah SDN 2 Mandingin, M. Ariswan, mengungkapkan saat ini sudah ada pendaftar baru, tetapi memang baru satu anak yang terdaftar secara resmi.

“Anak-anak di sini biasanya baru mendaftar setelah proses pembelajaran dimulai. Untuk tahun ini baru ada satu anak yang daftar setelah SPMB selesai,” ujarnya saat ditemui wartabanjar.com, Kamis (24/7/2025).

Ia menjelaskan, pihak sekolah sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya sosialisasi, termasuk langsung ke beberapa TK sekitar, seperti TK Mandingin, TK Sungai Tabuk, dan TK di Simpang 4 Tangkarau, namun belum membuahkan hasil sebab kurangnya angka kelahiran di wilayah tersebut.

“Saat kami diskusi dengan kepala desa, beliau menyebut angka kelahiran memang rendah. Anak yang dari TK hanya ada tiga, dan dua di antaranya justru memilih sekolah di kota karena orang tuanya bekerja di sana,” ungkap Aris.

Meskipun satu anak mendaftar di SDN 1 Mandingin, saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), anak tersebut diarahkan ikut ke SDN 2 Mandingin agar tidak merasa sendirian.

“Datanya tetap di SDN 1 Mandingin, tetapi saat MPLS kami gabungkan dengan SDN 2 Mandingin. Jadi total ada 19 murid. Kami juga diskusi dengan orang tua murid agar anaknya tidak merasa kesepian,” tambahnya.

Menurut Ariswan, jika ke depan ada rencana penggabungan dua sekolah tersebut oleh Dinas Pendidikan, ia menyatakan sangat setuju.

Terlebih kondisi SDN 1 Mandingin juga mengalami kekurangan guru.

“Guru PNS dan PKKK kami hanya tiga orang. Bahkan kemarin kami libatkan penjaga sekolah untuk membantu mengajar kelas 4, karena beliau kebetulan bisa mengajar. Untuk sisanya guru honorer, guru honorer kami pun belum masuk kategori honor daerah atau sekolah, tetapi alhamdulillah sebagian sudah besertifikasi,” jelasnya.

Untuk pembelajaran sehari-hari, kelas 1 pun akhirnya digabung dengan kelas 2 agar siswa tidak merasa sendiri.