“Kurikulumnya tetap sesuai tingkatan, tapi ruangannya digabung. Anak-anak kalau sendirian bisa cepat bosan,” tambahnya.
Faktor geografis juga disebut sebagai salah satu kendala.
SDN 1 Mandingin berada di pinggir jalan poros dengan lalu lintas kendaraan cukup tinggi, sehingga banyak orang tua khawatir menyekolahkan anaknya di sana.
“Letaknya di jalan poros. Kendaraan lewat cepat, sekolah kami jadi tidak terlihat. Saya sudah rencanakan untuk menyurati Dinas Perhubungan agar dibuatkan zona aman sekolah,” ujarnya.
Meski tahun ini sepi pendaftar, Ariswan optimistis tahun depan akan ada peningkatan, apalagi TK Mandingin di belakang sekolahnya kini memiliki sekitar 20 murid.
“Tahun depan, insyaallah ada 7-8 anak dari TK yang masuk ke sini. Kalau TK mati, SD bisa ikut mati. Jadi kami juga bantu pertahankan TK ini. Salah satunya dengan meminjamkan ruang perpustakaan sekolah karena bangunan TK rubuh,” bebernya.
Pihak sekolah juga mulai berbenah dari sisi penampilan.
Kantor kepala sekolah yang awalnya berada di dalam dipindahkan ke bagian depan sekolah agar terlihat aktif dari luar.
“Sebelumnya orang mengira sekolah ini tutup karena tidak terlihat aktivitas. Sekarang, kami pindahkan kantor ke depan, parkiran juga di halaman biar kelihatan sekolah ini hidup,” pungkas Aris.
Ia berharap, jika wacana penggabungan SDN 1 dan SDN 2 Mandingin direalisasikan, sekolah akan berkembang lebih baik ke depan. (Adew)
Editor: Yayu







