WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Film Superman (2025) yang baru dirilis pada 11 Juli 2025 lalu, tengah menuai kontroversi. Sejumlah warga Israel menyerukan aksi boikot terhadap film tersebut sebab ceritanya menyindir politik Israel dan para sekutunya terhadap genosida di Palestina. Selain itu, pemicu utama boikot ini juga adalah pernyataan dari sang pemeran utama, David Corenswet, yang beberapa waktu lalu secara terbuka menyuarakan dukungan terhadap rakyat Palestina. Film yang disutradarai James Gunn itu menawarkan sentuhan yang lebih emosional dan mendalam. Alur cerita film berpusat pada Superman (David Corenswet) yang turun tangan melindungi warga Jarhanpur dari serangan militer Boravia. Meski bertujuan melindungi, tindakannya menimbulkan ketegangan internasional dan memicu perdebatan soal batas intervensi Superman dalam urusan kemanusiaan. Banyak penonton yang mengaitkan bahwa alur ceritanya mirip dengan genosida Israel di Gaza, Palestina. Sebagian penonton menafsirkan bahwa Boravia sebagai Israel dan Jarhanpur adalah Palestina. Platform media sosial, ramai dengan reaksi warganet yang terbelah. Unggahan warganet mengklaim film tersebut menggambarkan Superman sebagai anti-genosida, sementara beberapa netizen lainnya secara eksplisit menyebutnya anti-Israel dan pro-Palestina BACA JUGA: Lansia Digigit Buaya di Desa Bagendang Permai Sampit Tak hanya itu, di film juga diceritakan ada pihak ketiga yang mendanai penyerangan Boravia terhadap Jarhanpur, yang oleh banyak warganet kemudian diibaratkan seperti AS yang selama ini diketahui sebagai pendana genosida Israel terhadap rakyat Palestina. Superman Simbol Kekuatan AS Jelang PD II Mengutip artikel jurnalis Joe Gill di Middle East Eye, disebutkan bahwa Superman diciptakan sebagai simbol kekuatan Amerika menjelang Perang Dunia II. Ia menyebut bahwa meskipun tidak semua pahlawan super merupakan simbol langsung imperialisme AS, gagasan tentang "kekuatan super" yang memungkinkan suatu karakter mengalahkan lawan-lawannya melalui pertarungan yang panjang merupakan esensi dari cara hidup Amerika. Sementara itu, sutradara James Gunn membantah film tersebut berlatar Timur Tengah. Dalam komik aslinya, konflik tersebut sebenarnya berlatar di Eropa. (berbagai sumber) Editor: Yayu