Dipuji Saat Menang, Dihujat Saat Kalah: Realita Jadi Bos Ferrari
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, JAKARTA — Menyandang status sebagai tim Formula 1 tertua dan paling legendaris, Ferrari tak pernah lepas dari sorotan. Namun keistimewaan itu juga datang dengan beban besar. Bagi publik Italia, Ferrari bukan sekadar tim balap ia simbol nasional, seperti timnas sepak bola. Maka tak heran, setiap kesalahan Ferrari di lintasan langsung jadi santapan tajam media dan publik.
Hal ini disinggung langsung oleh bos tim Mercedes, Toto Wolff, saat dimintai komentar tentang tekanan yang tengah dihadapi kepala tim Ferrari, Fred Vasseur. Wolff menegaskan bahwa atmosfer media di Italia begitu keras dan emosional.
"Mengelola Ferrari seperti mengelola tim nasional sepak bola. Saat menang, kamu dianggap Yesus Kristus. Saat kalah, kamu pecundang," ujar Wolff, dikutip dari Formula 1, Minggu (20/7/2025).
Sorotan Tanpa Ampun
Sejak gagal tampil maksimal di GP Kanada, sorotan terhadap Ferrari semakin tak terbendung. Dari tajuk-tajuk media olahraga Italia seperti La Gazzetta dello Sport, Corriere dello Sport, hingga forum penggemar online, kritik terhadap strategi tim dan keputusan teknis terus mengalir.
Fred Vasseur, yang baru memimpin Ferrari selama dua musim, kini berada di ujung tanduk. Ia dianggap gagal membangun konsistensi dan mengoptimalkan duet bintang Lewis Hamilton dan Charles Leclerc.
Namun menurut Wolff, tekanan seperti itu tidak adil jika tidak diimbangi dengan kepercayaan penuh. “Fred tahu apa yang dia lakukan. Dia tidak bermain politik. Dia hanya butuh ruang untuk bekerja,” tambahnya.
Ferrari dan Emosi Publik Italia
Tekanan terhadap Ferrari bukan fenomena baru. Sejak era Michael Schumacher, Fernando Alonso, hingga Sebastian Vettel, tim ini selalu menjadi magnet emosi nasional. Setiap musim F1 tak ubahnya drama olahraga yang dinilai bukan hanya dari hasil, tapi juga simbolisme nasionalisme.
Keberhasilan membuat rakyat Italia merayakannya bagai kemenangan negara, namun kegagalan bisa berujung pada tuntutan mundur para petinggi tim.
Menang Harus, Tapi Stabilitas Juga Penting
Sejumlah pengamat menyarankan agar Ferrari mulai membangun budaya yang lebih stabil, meniru pendekatan tim-tim seperti Red Bull dan McLaren yang cenderung lebih tertutup dari tekanan eksternal. Mentalitas jangka panjang dianggap lebih penting ketimbang ambisi instan yang membuat tim terjebak dalam siklus pergantian manajer dan arah strategi.
Dengan sisa musim 2025 yang masih terbuka, Ferrari punya waktu untuk memperbaiki performa tapi tekanan dari media dan publik tak akan menunggu lama. Di Italia, ketenangan adalah kemewahan yang sulit dimiliki ketika menyandang nama besar Ferrari. (berbagai sumber/aar)
Editor: Andi Akbar