WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Tekanan tinggi terus diarahkan ke jajaran pelatih pelatnas bulu tangkis Indonesia. Setelah mengevaluasi minimnya prestasi sepanjang paruh musim 2025, PP PBSI berencana mengaktifkan kembali sistem promosi dan degradasi pelatih sebagai bentuk reformasi di tubuh kepelatihan nasional. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Ketua Umum PP PBSI, Taufik Hidayat, yang menilai pentingnya rotasi dan persaingan sehat di level pelatih agar tidak ada yang merasa terlalu nyaman meskipun gagal memberikan hasil maksimal. “Sudah saya minta ke Binpres, promosi dan degradasi pelatih harus kembali dijalankan. Supaya yang tidak mencapai target bisa segera dievaluasi dan digantikan,” kata Taufik kepada media di Jakarta, Selasa (1/7). Prestasi Tak Sesuai Harapan, Pelatih Akan Dinilai Secara Objektif Hingga pertengahan 2025, pelatnas PBSI baru menyumbang dua gelar dari turnamen Super 300. Hasil ini dinilai jauh dari harapan, terutama karena Indonesia belum menunjukkan taji di level Super 500, 750, hingga 1000. “Kalau sudah dikasih waktu dari Januari dan masih belum ada peningkatan, ya kita buka semua rekam jejaknya. Kalau tidak layak, diganti,” tegas Taufik. Ia menambahkan, sistem evaluasi akan mengacu pada data objektif yang dikumpulkan oleh Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres), termasuk target individu tiap pelatih dan janji saat awal penugasan. SP1 Sampai SP3: Sistem Teguran Berlapis PBSI sudah mulai menjalankan sistem peringatan bertingkat kepada pelatih, yakni SP1, SP2, hingga SP3, jika target tidak tercapai. Bila tiga surat peringatan ini tidak membuat perubahan signifikan, maka pelatih berisiko kehilangan posisinya. “Semua ada ukurannya. Target tidak bisa disamakan. Kita lihat siapa yang dilatih, potensinya seperti apa, dan sampai sejauh mana realisasinya,” jelasnya. Regenerasi Pelatih Jadi Prioritas Rencana promosi-degradasi ini juga bertujuan untuk membuka jalan bagi pelatih muda berbakat yang mungkin selama ini belum mendapat kesempatan. “Yang muda juga harus dikasih ruang. Yang tua kalau sudah tidak bisa memberi hasil, harus legowo,” ucap Taufik. Dengan sistem ini, PBSI berharap lahir persaingan sehat, peningkatan kompetensi, dan penyegaran ide di pelatnas. (Aar)   Editor: Andi Akbar