Kerupuk Amplang, Cita Rasa Legendaris dari Barabai yang Bertahan Hampir Setengah Abad

Pemasaran dilakukan ke berbagai toko di Barabai dan sekitarnya.

“Ada juga pengecer menggunakan sepeda motor yang langsung mengambil kerupuk ke lokasi produksi,” sebutnya.

Satu bal kerupuk amplang buatannya berisi 10 bungkus, dijual Rp7.000.

Untuk pesanan besar, sistemnya konsinyasi, yaitu ambil dulu lalu bayar setelah barang habis.

BACA JUGA: VIRAL! Ulama dan Santri Segel Alfamart di Ciamis, Tuntut Boikot Produk Israel

“Khusus untuk toko-toko besar, pembayaran dilakukan penuh di muka,” katanya.

Usaha ini telah menghadapi jatuh bangun hingga tiga kali.

Penyebabnya, di antarnya adalah lonjakan harga bahan pokok seperti minyak goreng, tepung, dan bawang pernah menekan kelangsungan produksi.

Saat pandemi COVID-19, harga bahan baku sempat melonjak tajam.

“Sebungkus tepung tapioka isi 50 kg pernah menyentuh harga Rp700 ribu, namun kerupuk amplang ini tetap bertahan. Kunci kami adalah menjaga kualitas. Meskipun harga naik, kami tidak menurunkan mutu,” tutur M. Tahir.

Kini, usaha yang dimulai dari nol ini tak hanya menjadi ikon kuliner khas HST, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memberdayakan warga sekitar, dan menyumbang semangat wirausaha lokal.

Tak berlebihan jika kerupuk ini disebut sebagai “kerupuk legenda” yang telah mewarnai dapur dan meja makan masyarakat Banua selama puluhan tahun.

“Prinsip kami, usaha itu bukan hanya soal untung rugi, tetapi juga tentang semangat, konsistensi, dan warisan. Kami ingin terus menebarkan rasa bahagia dari kerupuk buatan kami,” ujar M. Tahir menutup dengan senyum penuh harapan. (adew)

Editor: Yayu