Kerupuk Amplang, Cita Rasa Legendaris dari Barabai yang Bertahan Hampir Setengah Abad
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BARABAI– Di sudut gang Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), berdiri kokoh sebuah rumah produksi kerupuk yang telah menjadi legenda hidup dalam dunia kuliner Kalimantan Selatan, yaitu kerupuk amplang legendaris bernama "Kerupuk Bawang Putih Cap Ikan."
Didirikan oleh M. Tahir (66) sejak 1976, usaha ini telah melewati berbagai zaman, krisis, bahkan pandemi, namun tetap eksis dengan mempertahankan cita rasa dan kualitas produksi secara turun-temurun.
Kerupuk ini awalnya dirintis secara sederhana oleh M. Tahir pada usia 17 tahun.
Belajar membuat kerupuk dari orang Jawa di Martapura, M. Tahir memulai produksi hanya berdua dengan istrinya, berkapasitas 10 kilogram per hari.
Tak lama kemudian, usaha ini mulai dikenal, hingga pada 1980 berpindah lokasi dari rumah mertuanya di Benawa Tengah ke Jalan Perintis, tempatnya berdiri hingga sekarang.
“Usaha kami sudah mendapatkan SK Usaha secara resmi pada tahun 1994,” jelasnya.
Kini, kerupuk amplangnya memiliki dua unit mesin senilai Rp140 juta yang mempercepat proses produksi.
Meskipun menggunakan teknologi, kualitas dan resep tetap dipertahankan.
Resep adonannya terdiri dari tepung tapioka, ikan peda atau ikan laut, bawang putih, garam, dan penyedap rasa kini diturunkan kepada anak-anaknya, M. Rizal dan Siti Annisa.
“Dulu semua dikerjakan manual. Sekarang Alhamdulillah sudah pakai mesin, produksinya bisa 110 kilogram per hari,” ujar M. Tahir.
Produksi kerupuk dilakukan mulai pukul 08.00 pagi.
Adonan dibumbui, dikukus, didinginkan selama empat jam, kemudian dipotong-potong, dijemur selama dua hari, dan akhirnya digoreng serta dikemas.
Di musim hujan, proses produksi terpaksa dihentikan sementara karena pengeringan tak bisa optimal.
Dalam prosesnya, kerupuk ini telah menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 13 orang karyawannya.
Mereka terbagi dalam beberapa bidang, mulai dari pengadonan, pencetakan, pengemasan, hingga pengantaran.
Pemasaran dilakukan ke berbagai toko di Barabai dan sekitarnya.
"Ada juga pengecer menggunakan sepeda motor yang langsung mengambil kerupuk ke lokasi produksi," sebutnya.
Satu bal kerupuk amplang buatannya berisi 10 bungkus, dijual Rp7.000.
Untuk pesanan besar, sistemnya konsinyasi, yaitu ambil dulu lalu bayar setelah barang habis.
BACA JUGA: VIRAL! Ulama dan Santri Segel Alfamart di Ciamis, Tuntut Boikot Produk Israel
"Khusus untuk toko-toko besar, pembayaran dilakukan penuh di muka," katanya.
Usaha ini telah menghadapi jatuh bangun hingga tiga kali.
Penyebabnya, di antarnya adalah lonjakan harga bahan pokok seperti minyak goreng, tepung, dan bawang pernah menekan kelangsungan produksi.
Saat pandemi COVID-19, harga bahan baku sempat melonjak tajam.
"Sebungkus tepung tapioka isi 50 kg pernah menyentuh harga Rp700 ribu, namun kerupuk amplang ini tetap bertahan. Kunci kami adalah menjaga kualitas. Meskipun harga naik, kami tidak menurunkan mutu,” tutur M. Tahir.
Kini, usaha yang dimulai dari nol ini tak hanya menjadi ikon kuliner khas HST, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memberdayakan warga sekitar, dan menyumbang semangat wirausaha lokal.
Tak berlebihan jika kerupuk ini disebut sebagai “kerupuk legenda” yang telah mewarnai dapur dan meja makan masyarakat Banua selama puluhan tahun.
“Prinsip kami, usaha itu bukan hanya soal untung rugi, tetapi juga tentang semangat, konsistensi, dan warisan. Kami ingin terus menebarkan rasa bahagia dari kerupuk buatan kami,” ujar M. Tahir menutup dengan senyum penuh harapan. (adew)
Editor: Yayu