WARTABANJAR.COM, MARABAHAN - Dunia perfilman Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali menggeliat dengan hadirnya film lokal berjudul “Pirunduk”, sebuah karya yang mengangkat budaya dan kearifan lokal masyarakat Banjar. Film yang diproduksi oleh Rumah Produksi Bima Sakti Pictures bersama Pentana Production itu resmi dimulai dengan ditandai dengan acara syukuran dan konferensi pers, disalah satu ruah makan, di kawasan Kelurahan Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala, Kamis (5/6) siang. Kegiatan syukuran tersebut dihadiri Bupati Barito Kuala, H Bahrul Ilmi dan Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hj Ananda, yang menunjukkan dukungan penuh dari pemerintah daerah terhadap industri kreatif lokal. Baca Juga DLH Kalsel Imbau Panitia Kurban Tidak Gunakan Kantong Plastik Film tersebut dibintangi oleh artis nasional, seperti Bucek Depp, Aulia Sarah, Yoriko angelina, dan Boy Idrus ini bergenre horor dan 70 persen pemeran dan kru adalah warga lokal Kalsel. Rencananya film Pirunduk akan menjalani proses pengambilan gambar di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya, dengan lokasi utama berada di Desa Tatah Masjid, Kecamatan Alalak, Batola. Dimana, film ini juga didukung oleh H Muhammad Rihan Variza sebagai Executive Producer, yang juga merupakan warga Kalimantan Selatan. Disutradarai oleh Billy Christian, film ini bergenre horor berlatar sebuah kampung terpencil di pinggiran sungai yang diteror oleh arwah gentayangan. Arwah tersebut dulunya adalah seorang istri yang mengalami penindasan semasa hidupnya, dan kini menuntut balas atas luka dan utang masa lalu. Dengan banyaknya dialog menggunakan Bahasa Banjar, film ini diharapkan tidak hanya menghadirkan kisah menyeramkan, tetapi juga menonjolkan kekayaan budaya lokal Kalimantan Selatan. Produser sekaligus penulis naskah, Budi Ismanto menjelaskan, diangkat dari cerita rakyat Banjar yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan mistis. “Awalnya film ini berjudul Pirunduk The Beginning, Pirunduk ini adalah salah satu kajian hitam yang dalam budaya Banjar penggunanya bisa mati jadi hantu,” ujar Budi. Film ini akan memadukan elemen horor, romansa, komedi, dan nuansa religius, dengan tetap mempertahankan cerita asli yang berkembang di masyarakat Banjar. “Kenapa kita mengangkat Pirunduk ini, karena ingin mengangkat budaya, keindahan alam, keunikan Kalimantan Selatan ke layar lebar,” ungkapnya. Budi menegaskan bahwa Pirunduk akan menjadi film horor yang berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia yang umumnya berlatar budaya Jawa. Film ini mengambil latar kehidupan masyarakat sungai khas Kalimantan Selatan, lengkap dengan rumah panggung, jukung, hingga pasar terapung. Lokasi utama syuting dipusatkan di Desa Tatah Mesjid, Alalak Berangas, Kabupaten Batola tempat kelahiran Bupati Batola H Bahrul Ilmi, yang dinilai masih mempertahankan suasana kampung tradisional khas Banjar dari era 1980 hingga 1990-an. Dari delapan lokasi yang direncanakan, desa ini dianggap paling sesuai untuk menggambarkan latar cerita yang kuat. “Desa Tatah Mesjid di Kabupaten Batola ini lah yang pas, mulai dari lebar sungai, rumah penduduk yang sebagian besar masih tradisional,” imbuhnya. Selain Batola, beberapa adegan juga akan diambil di Kota Banjarmasin, terutama di Kelurahan Sungai Jingah yang masih memiliki rumah-rumah tradisional bersejarah milik para saudagar Banjar. Lokasi lain yang turut digunakan adalah Sungai Bakung, yang dinilai masih sangat kental dengan budaya masyarakat bantaran sungai. Film ini juga menjadi wujud dorongan terhadap pertumbuhan industri kreatif lokal, dengan melibatkan talenta-talenta daerah yang berbakat. “Dengan 70 persen talenta lokal, Budi berkeinginan agar perfilman Kalimantan Selatan bisa berkembang dan melalui *Pirunduk* ini nantinya bisa menjadi pemicu agar industri kreatif daerah dapat berkembang,” katanya. Acara syukuran ini juga turut dihadiri oleh Bupati Batola H. Bahrul Ilmi dan Walikota Banjarmasin Hj. Ananda, sebagai bentuk dukungan terhadap produksi film tersebut. “Alhamdulillah kegiatan kita dihadiri Bupati Batola yang memberikan support luar biasa, baik fasilitas maupun perizinan. Kemudian Walikota Banjarmasin Hj. Ananda yang juga memberikan support,” ujarnya. Persiapan produksi telah berlangsung selama empat bulan dan proses syuting dijadwalkan dimulai, pada Minggu (8/6/2025) mendatang selama 24 hari. Setelah proses pengambilan gambar selesai, tahap pascaproduksi akan berlangsung selama dua hingga tiga bulan. “Kalau tidak ada masalah, mudah-mudahan Pirunduk bisa tayang di layar lebar atau bioskop seluruh Indonesia pada tahun ini juga, apakah di November, Oktober, atau September,” ungkap Budi optimis. (Ignatius) Editor Restu