Istri Gundah Suami Tak Pulang! Petani di Tanah Laut Ini Ditemukan Sudah Tak Bernyawa di Sawah
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Suasana duka menyelimuti Desa Batibati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Seorang petani bernama Manik (50) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tengkurap di sawah miliknya yang terletak di Dusun 3, Desa Gunungraja, Kecamatan Tambangulang, Sabtu malam (31/5/2025).
Setiap hari, Manik memang rutin beraktivitas di sawahnya yang berada di desa tetangga. Biasanya, ia selalu pulang sebelum waktu maghrib. Namun, pada Sabtu itu, hingga malam tiba, ia tak kunjung kembali ke rumah, membuat sang istri cemas.
Istri Panik, Sang Suami Tak Pulang Juga
Karena gundah, istri Manik meminta bantuan saudara sang suami, Shollah, untuk mencari ke sawah. Shollah kemudian mengajak seorang warga bernama Ishar, yang kebetulan tinggal tak jauh dari lokasi sawah.
BACA JUGA:TRAGIS! Ditolak RS Pemerintah karena Dianggap Tak Darurat, Wanita di Padang Meninggal, Netizen Murka!
Sesampainya di lokasi sekitar pukul 20.15 Wita, Shollah mendapati pemandangan memilukan. Manik ditemukan dalam kondisi tengkurap di tengah sawah, sudah tidak bernyawa. Tubuhnya penuh lumpur dan berada bukan di pematang, tetapi langsung di lahan sawah basah.
“Kami temukan almarhum dalam posisi tertelungkup. Badannya penuh lumpur. Setelah itu, kami bersihkan dan bawa ke pondok,” tutur Shollah seperti dikutip dari akun Instagram @kalimantanpunya.id, Senin (2/6/2025).
Jenazah Dievakuasi
Shollah segera menghubungi istri korban dan meminta ambulans desa untuk mengevakuasi jenazah. Evakuasi dilakukan sekitar pukul 21.00 Wita, melibatkan keluarga korban, warga sekitar, dan Babinsa Desa Gunungraja, Serda Mu'arifin.
“Atas permintaan keluarga, jenazah langsung dibawa pulang ke rumah duka di Desa Batibati,” ujar Serda Mu'arifin.
Hingga kini, belum diketahui pasti penyebab kematian Manik. Namun peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan, terutama bagi para petani yang bekerja seorang diri di lokasi terpencil.(Wartabanjar.com/kalimantanpunya.id/berbagai sumber)
editor: nur muhammad