JUMAT KELABU BANJARMASIN: Tragedi Mematikan Mengguncang Negeri, 123 Tewas, 118 Luka dan 179 Hilang
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Pada 28 tahun yang lalu atau tepatnya Jumat 23 Mei 1997, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menjadi saksi bisu dari salah satu kerusuhan paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Peristiwa ini, yang dikenal sebagai "Jumat Kelabu", terjadi pada hari terakhir kampanye Pemilu 1997 dan menewaskan ratusan orang serta menyebabkan kerusakan luas di kota tersebut.
Kronologi Kerusuhan
Kerusuhan bermula dari konvoi massa pendukung Partai Golkar yang melintasi Masjid Noor di Jalan Pangeran Samudera saat umat Islam sedang melaksanakan salat Jumat. Konvoi tersebut menggunakan sepeda motor dengan knalpot bising, mengganggu ketenangan ibadah. Meskipun telah ada larangan untuk tidak melewati masjid tersebut, massa tetap memaksa melintas, memicu kemarahan jamaah.
BACA JUGA:VIRAL! Siswa SMP di Depok Mendadak Linglung Usai Study Tour ke Jogja, Sang Ibu Mengadu Kemana?
Peringatan dan Refleksi
Setelah salat Jumat, massa yang marah menyerang Kantor DPD Golkar Kalimantan Selatan, bentrok dengan Satgas Golkar dan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI).
Kerusuhan kemudian menyebar ke berbagai penjuru kota, menyebabkan pembakaran dan penjarahan di pusat-pusat perbelanjaan seperti Mitra Plaza, Plaza Junjung Buih, dan Toserba Barata. Gedung-gedung pemerintahan, bank, hotel, dan rumah-rumah warga, termasuk milik etnis Tionghoa, juga menjadi sasaran.
Korban dan Dampak
Menurut data Komnas HAM, kerusuhan ini menyebabkan setidaknya 123 orang tewas, 118 luka-luka, dan 179 orang hilang. Sebagian besar korban tewas ditemukan di lantai atas Mitra Plaza yang terbakar. Kerusuhan juga menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur kota dan meninggalkan trauma mendalam bagi warga Banjarmasin.
Hingga kini, tragedi Jumat Kelabu masih dikenang oleh masyarakat Banjarmasin. Setiap tahun, berbagai kelompok masyarakat mengadakan aksi damai dan doa bersama untuk mengenang para korban dan mengingatkan pentingnya menjaga perdamaian serta toleransi.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga tentang bahaya politisasi agama dan pentingnya menghormati perbedaan dalam masyarakat multikultural.(Wartabanjar.com/merdeka.com/bpost/okezone.com/Elshinta/berbagai sumber)
editor: nur muhammad