Benarkah Puasa Setelah Nisfu Syaban Haram? Simak Penjelasan Ini

Ia berpendapat bahwa seseorang yang terbiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis atau berpuasa Daud masih berpeluang menjalankan puasa pada hari tersebut. Ia menegaskan bahwa: “Dan dikecualikan dari apa yang telah disebutkan syaikh, yakni seseorang yang terbiasa berpuasa sunnah yang bertepatan hari ragu. Seperti dia menyambung puasa, atau berpuasa pada hari tertentu seperti hari senin dan kamis, atau sehari berpuasa dan sehari berbuka”. (Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hushni Ad-Dimasqi, Kifayatul Akhyar Fi Hilli Ghayatil Ikhtishar, [Beirut: Daar al-Kotob al-Ilmiyah, 2001], hal. 291)

Bagi muslim Indonesia saat ini, Yaumus Syak nyaris tidak ada. Hal ini disebabkan oleh dukungan Pemerintah Republik Indonesia yang selalu mengadakan ru’yatul hilal untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan.

Hasilnya dapat diketahui masyarakat luas dan pada akhirnya mereka berpuasa dengan penuh keyakinan.

Berdeda dengan At-Tirmidzi dan An-Nawawi, Al-Baihaqi melihat puasa pada paruh kedua bulan Sya’ban dengan mengutip hadits Nabi Muhammad SAW pada kitab Syu’abul Iman, sebagaimana berikut: “Dari Abdullah bin Abu Qais bahwa ia mendengar Aisyah berkata: Bahwa bulan yang paling disukai Nabi Muhammad SAW untuk berpuasa adalah Sya’ban. Kemudia beliau sambung puasa Sya’ban tersebut dengan Ramadhan”.(Ahmad Bin Al-Husain Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, [Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiah, 2000], Jilid III, hal. 377)

Berdasarkan redaksi hadits tersebut, boleh jadi hukum makruh sebagaimana kesimpulan At-Tirmidzi berubah menjadi sebuah anjuran.

Karena fakta hadits menyebutkan adanya kecintaan Nabi Muhmmad SAW berpuasa pada bulan Sya’ban serta kelanjutan puasa nabi dengan puasa Ramadhan.

Fakta lain yang memperkuat kebolehan berpuasa paruh kedua bulan Sya’ban adalah puasa itu sendiri.

Artinya, puasa merupakan salah satu ibadah yang berat secara fisik dan membutuhkan pembiasaan lama. Sehingga mustahil bagi seseorang melaksanakan puasa pada paruh kedua bulan Sya’ban tanpa kebiasaan melaksanakan puasa sunnah sebelumnya.

Selain itu, mereka yang ingin mengqadha puasa Ramadhan di paruh kedua bulan Sya’ban hukumnya diperbolehkan.

Intinya, puasa pada paruh kedua bulan Sya’ban tetap diperbolehkan secara teori dan fakta.

Seandainya ada larangan, maka larangan tersebut tidak sampai pada status haram. Hanya sampai pada status makruh yang lebih baik ditinggalkan. Wallahu a’lam. (Berbagai sumber/NU Online)

Editor: Erna Djedi