AS Mulai Panik Hingga Ancam Negara-Negara BRICS Seperti Ini
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, MOSCOW - Amerika Serikat (AS) nampaknya mulai panik dengan langkah Brazil, Rusia, India, China, dan South Africa yang tergabung dalam BRICS. Tak pelak jika Presiden terpilih Donald Trump pada mengancam pengenaan tarif 100 persen terhadap mereka jika tidak membatalkan rencana penggunaan mata uang alternatif selain dolar AS.
"Gagasan bahwa negara-negara BRICS berusaha untuk menjauh dari Dolar, sementara kita hanya berdiam diri dan mengawasi, sudah berlalu," tulis Trump yang dikutip Wartabanjar.com di platform media sosial miliknya, Truth Social.
"Kita memerlukan komitmen dari negara-negara ini bahwa mereka tidak akan menciptakan Mata Uang BRICS yang baru, atau mendukung Mata Uang lain untuk menggantikan Mata Uang Dolar AS yang perkasa," kata Trump.
Baca juga: Anindya Kukuhkan Pengurus Kadin Lebih Awal, Begini Pesannya:
Jika BRICS meneruskan rencananya, AS akan menghadang negara-negara tersebut dengan pengenaan tarif 100 persen. AS juga akan mengucapkan:
"Selamat tinggal pada penjualan berbagai produk mereka ke wilayah perekonomian AS yang luar biasa."
Trump menekankan bahwa negara mana pun yang berupaya menggantikan dolar AS dalam perdagangan internasional akan "mengucapkan selamat tinggal kepada Amerika".
Seperti diketahui, BRICS merupakan kelompok negara-negara Brazil, Rusia, India, China, dan South Africa yang dibentuk pada 2006. Rusia menjadi ketua bergilir blok tersebut sejak 1 Januari 2024.
Baca juga: Babinsa Pekauman Amankan Pengembalian Logistik Pilkada 2024 di Gudang RK Ilir
Tahun ini dimulai dengan masuknya anggota baru ke dalam asosiasi tersebut.
Dilansir dari situs Kepemimpinan BRICS Rusia 2024, kelima negara tersebut juga menerima Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi untuk bergabung. Arab Saudi dilaporkan belum meresmikan partisipasinya, tetapi telah mengambil bagian dalam pertemuan-pertemuan BRICS.
Negara-negara BRICS dalam beberapa tahun terakhir ini meningkatkan langkah-langkah untuk menurunkan ketergantungan mereka pada dolar AS dalam melakukan perdagangan internasional.
Mereka bertujuan untuk menggunakan mata uang mereka sendiri untuk mematahkan hegemoni dolar dalam perdagangan internasional. (Sidik Purwoko)
Baca juga: Teka-Teki Progres Pembangunan IKN, AHY Beberkan Yang Sebenarnya
Editor: Sidik Purwoko