WARTABANJAR.COM, BEIJING - Presiden RI Prabowo Subianto melakukan peletakkan karangan bunga atau Flower Tribute di Monumen Pahlawan Nasional, Tiananmen, China, Sabtu (09/11/2024). Prosesi tersebut kerap dilakukan presiden-presiden yang berkunjung ke Beijing sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan di China. Momen ini berlangsung usai Prabowo melakukan pertemuan bilateral dengan PM China Li Qiang dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (NPC) Zhao Leji. Setibanya Prabowo di Monumen Tiananmen, ia disambut langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri China Sun Weidong. Keduanya kemudian bertegur sapa dan bersalaman. Baca juga: Wamen Diana Tinjau Tol Semarang-Demak Terintegrasi Tanggul Laut dan Sistem Pengendali Banjir Rob Tambak Lorok “Terima kasih, terima kasih, xie xie,” kata Prabowo seperti dikutip Wartabanjar.com. Adapun, yang mendampingi Prabowo di Tiananmen yakni Dubes RI untuk China, Djauhari Oratmangoen, Menteri Luar Negeri Sugiono, Wamendiktisaintek Stella Christie, Rosan Roeslani Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Peletakkan karangan bunga itu dilakukan oleh Prabowo diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan China. Baca juga: Debat Pilkada 2024 di Penajam Paser Utara Menggelitik, Paslon Enggan Bertanya karena Bersahabat “Terima kasih banyak,” ujar Prabowo sembari diantarkan Wamenlu China dan jajaran lainnya. Kemudian, setelah memberikan penghormatan Prabowo menuju rangkaian kendaraannya dan meninggalkan Tiananmen Square. Sebagai informasi, Lapangan Tiananmen di Beijing menjadi fokus protes besar-besaran, yang dihancurkan penguasa Komunis China, 30 tahun lalu. Pada 1980-an, China mengalami perubahan besar. Partai Komunis yang berkuasa mulai mengizinkan beberapa perusahaan swasta dan investasi asing. Baca juga: Kapolri Apresiasi Dedikasi Kompolnas 2020-2024, Ini Harapannya ke Komisioner 2024-2028 Pemimpin China, Deng Xiaoping berharap kebijakan itu dapat membangkitkan perekonomian dan meningkatkan standar hidup. Namun, upaya itu dicederai praktek korupsi, sementara pada saat yang sama meningkatkan harapan adanya keterbukaan politik yang lebih besar. Pada musim semi 1989, aksi protes meningkat, dengan tuntutan kebebasan politik yang lebih besar. Para pengunjuk rasa didorong kematian seorang politisi terkemuka, Hu Yaobang, yang terlibat dalam sejumlah perubahan ekonomi dan politik. Hu Yaobang kemudian terdepak keluar dari posisi penting partai oleh lawan politiknya dua tahun sebelumnya. Sekitar sepuluh ribu orang berkumpul pada hari pemakamannya, di bulan April, menyerukan kebebasan menyuarakan pendapat yang lebih besar dan menolak sensor. Baca juga: Diancam Parang, HT Melaporkan Tetangganya HE Ke Polisi Pada pekan-pekan berikutnya, para pemrotes berkumpul di Lapangan Tiananmen, dan diperkirakan pesertanya mencapai satu juta jiwa. Lapangan Tiananmen merupakan salah satu penanda paling terkenal di Beijing. Di dekat lapangan itu, ada makam Mao Zedong, pendiri China modern, Aula Besar Rakyat, yang digunakan Partai Komunis untuk menggelar pertemuan.(Sidik Purwoko) Editor: Sidik Purwoko