“Alhamdulillah selalu habis, bahkan kadang saya lebih 50 kilo mengolahnya,” jelasnya, Rabu (21/8/2024)
Ia pun menceritakan proses pengolahan jaring agar aroma khasnya berkurang supaya bisa dimakan dengan lahap oleh penikmatnya.
Pada awalnya, jaring akan direbus selama kurang lebih tiga jam terlebih dahulu. Kemudian, jengkol akan dikupas dan direndam di dalam air sebelum direbus untuk kedua kalinya.
“Lalu rebusan kedua biasanya kita mulai dari siang sampai subuh,” ungkapnya.
Direbusan kedua, jaring akan direbus bersama daun jambu biji untuk menghilangkan aroma khasnya. Daun jambu biji inilah yang membuat jaring Khas Pingaran tak beraroma khas lagi.
Jaring ini biasanya disantap bersama cocolan khas Desa Pingaran yang terbuat dari kelapa yang memiliki rasa gurih dan cocok dimakan dengan jengkol yang empuk.
Jaring yang diproduksi Haji Baidawi biasanya dibeli oleh warga Banjarmasin yang ingin menjualnya kembali di pasaran. Ia juga menjual jengkol tersebut di Pasar Martapura dan sekitarnya.
“Saat Idul Fitri yang dari Hulu Sungai itu juga membeli sebagai oleh-oleh untuk keluarganya,” tutup Haji Baidawi. (nurul octaviani)
Editor Restu







