Mahasiswi Tewas Terjun dari Gedung Bank Jambi Dikenal sebagai Guru Mengaji dan Hafidzah
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, JAMBI - Fakta mengejutkan terungkap di balik tewasnya mahasiswi yang terjun dari lantai 12 Gedung Mahligai 9 Bank Jambi,
Perempuan berinisial SAS itu diketahui terjun dari lantai 12 gedung pencakar langit di Kota Jambi pada Selasa ((16/7/2024) malam.
SAS merupakan seorang mahasiswi semester akhir di Universitas Islam Negeri (UIN) STS Jambi.
SAS diduga mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari lantai 12.
Kejadian ini tidak hanya mengejutkan warga sekitar, tetapi juga mengguncang mereka yang mengenal SAS secara pribadi.
Baca juga: Pajang Foto Abah Guru Sekumpul, Toko Tak Terbakar di Kebakaran Pasar Lima
Mereka masih tak percaya SAS melakukan tindak senekat itu.
Dalam hitungan jam setelah berita tersebut menyebar, jejaring sosial media dibanjiri dengan ungkapan duka cita dan ketidakpercayaan.
Dilansir jambisatu.id (jaringan beritasatu.com), sahabat dan orang-orang yang pernah mengenal SAS merasa sangat terpukul. Mereka mengenalnya sebagai pribadi yang baik, santun, dan penuh kebaikan.
Banyak orang yang mengenal SAS merasa sangat terkejut dengan keputusannya.
Seorang yang dikenal sebagai penghafal Quran (hafidzah), guru ngaji, dan selalu bersikap baik kepada semua orang, tiba-tiba memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.
Polisi hingga saat ini masih menyelidiki motif di balik tindakan nekat SAS.
Mereka berusaha mencari tahu apakah ada tekanan atau masalah yang tidak terlihat dari luar yang membuat SAS merasa bahwa ini adalah satu-satunya jalan keluar.
Baca juga: Tersangka Baru Scam Internasional Diamankan Bareskrim Polri
Teman-teman SAS di UIN STS Jambi juga memberikan pandangan mereka. Neweraboy, salah seorang mahasiswa akhir di UIN, menulis, "Saya mahasiswa akhir juga di UIN dan mungkin merasakan hal yang sama dengan almarhumah. Susah memang survive dengan kondisi mental psikis."
@bbyshrak0, yang selalu melihat SAS ceria, merasa tidak percaya bahwa dia memiliki masalah seberat itu.
"Anaknya kelihatan ceria terus. Jadi gak kepikiran kalau dia punya masalah seberat itu," ungkapnya.
Fadillah dan TariOctavia, teman-teman SAS di kampus, juga menekankan pentingnya dukungan psikologis bagi mahasiswa.
"Benar banget kak, beliau orang yang ceria dan membuat teman-temannya selalu ketawa," kata Fadillah. Sementara TariOctavia menambahkan, "Padahal anaknya prodi PAI. UIN harus buat ruang konseling sih."
Baca juga: Pemkab Balangan Setujui Penyertaan Modal Rp 500 Miliar Kepada Bank Kalsel
Insri Wahyuni dan Nur942, sahabat SAS lainnya, mengingatkan bahwa kita tidak bisa menyimpulkan permasalahan hanya dari satu sisi.
"Kita enggak bisa bilang permasalahan di satu titik yaitu semester akhir atau skripsi. Bisa jadi almarhumah mempunyai persoalan lain yang dia sendiri tidak bisa dan tidak tahu cara mencari jalan keluarnya," ujar Insri Wahyuni.
Nur942 juga meminta agar tidak langsung menyimpulkan penyebab tindakan SAS. "Jangan langsung menyimpulkan bahwa kejadian ini dikarenakan skripsi atau dipersulit dosen. Karena masalah yang terjadi sama beliau ini hanya dia yang tahu," jelasnya.
Kejadian ini membuka mata banyak pihak akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental.
Tidak ada yang tahu pasti apa yang dirasakan SAS dalam hari-hari terakhirnya. Namun, satu hal yang pasti, dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekat bisa menjadi penolong dalam menghadapi masa-masa sulit.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu peka terhadap orang-orang di sekitar kita. Terkadang, senyuman yang terlihat tidak selalu mencerminkan kebahagiaan yang sebenarnya. (berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi