WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Kapal perang Indonesia KRI Diponegoro-365 mengadakan latihan menembak (gunnery exercise) di Laut Mediterania. Latihan itu untuk menguji kesiapan persenjataan kapal selama operasi menjaga perairan Lebanon bersama Satuan Tugas Maritim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Lebanon (MTF UNIFIL). Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Dispenal) dikutip Wartabanjar.com dalam siaran resminya menjelaskan, latihan menembak itu terbagi atas empat sesi yang seluruhnya diarahkan ke Zona Barbara, Laut Mediterania, Lebanon. Menurut Komandan KRI Diponegoro-365 Letkol Laut (P) Wirastyo Haprabu, latihan penembakan sejumlah senjata itu bertujuan menguji fungsi sistem sensor weapon and command (sewaco) kapal. “Latihan itu juga untuk mempertahankan profesionalisme serta naluri tempur prajurit pengawak dalam menghadapi perkembangan situasi yang sangat kompleks dan dinamis terutama di daerah misi perairan Lebanon,” kata Wirastyo, yang saat ini bertugas sebagai Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) MTF TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVIII-O UNIFIL, Sabtu (25/05/2024). Baca juga: Kemenhub Dorong Sekolah-Sekolah Kedinasan Lakukan Pembaharuan Dalam latihan Selasa (21/05/2024) lalu, pengawak senjata KRI Diponegoro menembakkan canon reaksi cepat Otomelara Super Rapid Gun (OSRG) 76 mm menggunakan dua metode. Metode pertama yaitu secara terpusat melalui sistem Pusat Informasi Tempur (PIT) dan melalui perangkat Target Designated Sight (TDS). Umumnya, OSRG dikendalikan secara terpusat dari PIT. Tetapi perangkat PTS kemudian menjadi penting untuk mengoperasikan penembakan meriam saat sistem terkena jammed atau kapal harus mematikan sistem radarnya (radar silence). Dalam perangkat itu, ada pengawak yang dapat berperan sebagai penembak (gunner) untuk membidik sasaran menggunakan perangkat seperti teropong binokuler. Kemudian, pengawak KRI Diponegoro juga latihan menembak menggunakan Mitraliur Vector G20 20 mm dari sisi kanan dan kiri. Selanjutnya menembak menggunakan Soft Kill Weapon System (SKWS) Terma Decoy baik dari ruang PIT maupun manual (CU anjungan). Baca juga: Polres Tanbu Amankan Perempuan ini Atas Kasus Penipuan Travel Hal itu sebagai langkah menghalau ancaman datangnya rudal ke arah kapal. SKWS Terma Decoy merupakan salah satu penangkal rudal anti-kapal yang ada di KRI Diponegoro. Terakhir, pengawak KRI Diponegoro juga latihan menembak menggunakan Sniper Tipe AX 7,62 mm dalam simulasi menghadapi ancaman asimetris di laut. KRI Diponegoro bertugas bersama MTF UNIFIL di perairan Lebanon sejak awal 2024. Kapal perang TNI AL itu berlayar dari Jakarta ke Lebanon sejak akhir 2023 menggantikan KRI Frans Kaisiepo-368. Baca juga: Byeon Woo Seok Sedang Naik Daun, Filmnya ‘Soulmate’ Dikabarkan Bakal Ditayangkan Ulang di Bioskop Satgas MTF di Lebanon bertugas memelihara perdamaian di sepanjang perbatasan Lebanon dan Israel bersama satuan tugas UNIFIL lainnya. mereka yakni Satgas Batalyon Mekanis TNI (INDOBATT), Satgas Pendukung Markas/Force Headquarter Support Unit (FHQSU), Satgas Indo Force Protection Company (FPC), Satgas Koordinasi Sipil-Militer/Civilian Military Coordination (CIMIC) TNI, Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU), dan Satgas Level 2 Hospital. Sebagian besar prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL beroperasi di darat, sementara untuk Satgas MTF menjalankan tugasnya di laut. Beberapa tugas yang diemban para prajurit Satgas MTF UNIFIL, yakni berpatroli di perairan, sepanjang perbatasan, mencegah masuknya senjata secara ilegal, dan menggelar pelatihan untuk prajurit Angkatan Laut Lebanon. (Sidik Purwoko) Baca juga: Kapolsek Gambut Sigap Cegah Kelangkaan LPG 3 Kg, Perintahkan Anggota Awasi Distribusi Barang Subsidi Tersebut Editor: Sidik Purwoko