Kultum Ramadhan, Puasa Mendidik Kesahajaan dan Kesehatan Pola Makan

WARTABANJAR.COM – Ramadhan tahun ini keprihatinan mewarnai kehidupan kaum muslimin karena kenaikan harga bahan makanan pokok.

Padahal ketika bulan puasa, permintaan bahan makanan di pasaran meningkat pesat.

Dengan kondisi seperti sekarang, banyak masyarakat yang akhirnya mengencangkan ikat pinggang dan mengubah pola makan agar pengeluaran sesuai dengan kemampuan ekonominya.

Di tengah-tengah kesulitan masyarakat inilah, Ramadhan hadir dalam suasana kesahajaan.

Sebagai muslim yang menjalani puasa, mereka merasakan lapar dan dahaga di Bulan Ramadhan sebagaimana saudaranya yang kekurangan makanan.

Kesamaan rasa ini menjadi simbol solidaritas terhadap saudara-saudaranya yang kurang mampu, terutama dalam memenuhi kebutuhan makanannya.

Makan bagi orang Islam tidak sekedar kebutuhan perut, tetapi merupakan bekal untuk ibadah.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari nafsu makan sering membuat orang makan lebih dari keperluan. Karena itu, perut yang mengolah makanan perlu diistirahatkan sejenak setelah 11 bulan bekerja keras.

Puasa yang dilaksanakan oleh umat Islam merupakan latihan pengendalian nafsu makan sekaligus relaksasi bagi saluran pencernaan.

Karena kebiasaan atau pola makan yang mungkin tidak terkendali di luar Bulan Ramadhan, bagi sebagian orang puasa adalah sarana terbaik untuk mendidik pola makan yang sehat.

Berbuka puasa dan sahur secara rutin pada Bulan Ramadhan membiasakan saluran pencernaan bekerja dengan tertib.

Ketika sudah berhasil menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, termasuk mengendalikan nafsu makan, seorang muslim hendaknya tidak berbuka puasa dengan berlebihan.

Saluran pencernaan yang telah relaksasi perlu disuplai nutrisi secara bertahap setelah berbuka puasa.

Meskipun nafsu makan bangkit kembali, umat aktivitas makan umat Islam dibatasi dengan rangkaian ibadah sunnah lainnya.

Masalah makanan memang mendapatkan perhatian besar dalam agama Islam. Saking pentingnya, Al-Quran memuat perintah untuk memerhatikan makanan di dalam surat ‘Abasa ayat 24 artinya, “Maka, hendaklah manusia itu memerhatikan makanannya.” Dalam Tafsir Al-Ibriz dijelaskan bahwa maksud dari ayat di atas terkait dengan proses sampainya makanan sebagai rezeki dari Allah kepada manusia hingga makanan itu dikelola oleh manusia. (Mustofa, Tafsir Al-Ibriz, [Wonosobo Lembaga Kajian Strategis Indonesia: 2013], halaman 593).