Selayaknya manusia itu memerhatikan perihal makanannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan itu mulai dari cara Allah mengatur asal muasal makanan itu sehingga sampai di tangan manusia.
Namun, tidak kalah pentingnya memerhatikan pola makan, pengolahan makanan itu oleh manusia, hingga cara mengonsumsinya.
Setelah dikonsumsi, makanan ada yang berubah menjadi energi atau tenaga. Tenaga inilah yang bermanfaat untuk menunjang aktivitas ibadah.
Namun, ada pula sisa makanan yang harus dibuang agar tubuh tetap sehat.
Ada hadits dalam Musnad Imam Ahmad yang relevan dengan makna “memerhatikan” pada ayat ke-24 Surat Abasa. Riwayat itu bersumber dari Ad-Dahhak bin Sufyan Al-Kilabi. “Suatu ketika Rasulullah bertanya: “Hai Dahhak, apa makananmu?’ Jawab Dahhak, “Daging dan susu ya Rasulullah.” Tanya Rasulullah selanjutnya, “Kemudian makanan itu menjadi apa?” Dahhak menjawab, “Sampai menjadi sesuatu yang Anda mengetahuinya.”
Rasulullah kemudian bersabda kembali. “Sesungguhnya Allah menjadikan segala yang keluar dari anak Adam itu perumpamaan untuk kehidupan dunia.” (HR Ahmad).
Apabila direnungkan, proses pencernaan makanan itu menghasilkan sampah yang dapat meracuni tubuh apabila tidak dikeluarkan.
Ibadah puasa melatih tubuh agar lebih ringan memproses makanan yang masuk sehingga energi tetap terbentuk sekaligus memudahkan sisa makanan dikeluarkan dari tubuh.
Manusia juga harus memerhatikan makanannya dari segi kesehatan karena tidak semua makanan baik untuk dikonsumsi.
Sebagian makanan bahkan berbahaya bagi tubuh karena mengandung zat tertentu yang beracun. Makanan yang tidak baik bagi tubuh ini sering dikategorikan sebagai makanan yang tidak thayyib atau tidak sehat.
Sebagai contoh yang mudah adalah singkong karena sangat populer dan enak disantap.
Singkong sebetulnya dapat mengandung zat sianida yang beracun. Namun, bila singkong itu diolah dengan direbus atau digoreng maka kandungan sianida akan terlepas sehingga menjadi relatif aman. Karena itu, sebisa mungkin manusia menghindari mengonsumsi singkong yang masih mentah.
Berdasarkan makna ‘memerhatikan’ pada Surat ‘Abasa sebagai melihatnya hati dan pikiran, maka Ramadhan menjadi momentum untuk mendidik pola makan agar lebih sehat lahir dan batin.
Selain itu, makanan anak Adam bisa dijadikan perumpamaan untuk kehidupan dunia.
Jika energi yang terbentuk dari pola makan tidak dialokasikan untuk beribadah, maka yang tinggal hanyalah sisanya yang buruk rupa dan tidak berguna. Wallahu a’lam bis shawab.
Sebagaimana ditulis Ustadz Yuhansyah Nurfauzi, Anggota Komisi Fatwa MUI Cilacap, apoteker dan peneliti di bidang farmasi yang dilansir NU Online. (berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi







