Tetapi dengan catatan, pendapat atau masukan itu adalah kebenaran dan mengandung keteladanan.
Saat peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad menjadi imam shalat bagi nabi-nabi terdahulu.
Ini bukti bahwa mereka tunduk dan mengikuti risalah Nabi Muhammad.
Melihat keistimewaan Masjidil Aqsa
Dalam perjalanan Isra’, Masjidil Aqsa yang berada di Palestina itu menjadi tempat tujuan Nabi, sebelum akhirnya Mi’raj atau naik ke Sidratul Muntaha.
Ini merupakan indikasi betapa mulianya masjid tersebut.
Bahkan masjid ini pernah menjadi kiblat shalat sebelum akhirnya berganti Kakbah.
Pahala shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) 500 kali lipat dibanding masjid biasa.
Makanlah makanan yang baik dan halal
Nabi Muhammad mengajarkan untuk mengonsumsi makanan yang baik lagi halal.
Ketika Nabi Muhammad diberi pilihan antara air susu dan khamr saat Mi’raj, Nabi lebih memilih susu. Kemudian Malaikat Jibril berkata, “Engkau telah diberi hadiah kesucian.” Ini sebagai isyarat bahwa Islam adalah agama suci (fitrah).
Pentingnya menjaga shalat
Malam Isra’ Mi’raj merupakan waktu disyariatkannya shalat lima waktu secara langsung, tanpa melalui perantara Malaikat Jibril, sebagaimana syariat-syariat lainnya.
Ini menunjukkan betapa shalat memiliki kedudukan sangat penting bagi umat Islam.
Pemantapan level keyakinan
Nabi saw Sebelum Mi’raj, Nabi Muhammad hanya mendengar informasi terkait surga, neraka, dan hal-hal ghaib lainnya melalui wahyu.
Ini namanya ‘ilmul yaqin, Nabi mengimaninya tapi belum melihat langsung.
Ketika Mi’raj, Nabi Muhammad melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri.
Ini namanya ‘ainul yaqin. Ketika seseorang sudah sampai pada ‘ainul yaqin, maka kemantapan atas apa yang diyakininya semakin kuat.
Demikian sejumlah hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa Isra’ Mi’raj. (berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi







