“Target kita di akhir tahun itu bisa mencapai di angka 95-96%, karena itu masih cukup banyak yang harus kita lakukan sampai dengan akhir tahun ini,” tuturnya.
Lebih lanjut, realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga 31 November 2023 di Kalsel sedikit menurun dari target yang ditentukan.
“Untuk target KUR kita tahun ini yaitu Rp6,5 Triliun, sementara dari data sampai dengan November 2023 ini baru diangka 4,66 Triliun atau bari 87,91%,” papar Safriadi.
Penurunan akselerasi KUR tersebut terjadi di hampir semua lokasi disebabkan oleh berapa kebijakan yang harus disikapi oleh penyalur KUR.
Di antara kebijakannya adalah penyalur tidak boleh membiayai debitur yang sudah pernah mendapatkan KUR untuk kesekian kali, sehingga penyaluran KUR tidak terpaku kepada orang yang sama, serta harus menyebar ke UMKM.
“Regulasi terbaru yang diterbitkan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) tersebut tidak mudah dipraktekkan oleh penyalur KUR. Makanya, 18 penyalur KUR yang melakukan akselerasi patut diapresiasi, karena hampir mendekati target penyaluran. Terlebih lagi, tidak mudah mencari debitur KUR yang layak, sesuai target dan aman untuk perbankan,” tambahnya.
Diketahui, Kalsel menempati peringkat 20 dari 34 provinsi di Indonesia dalam realisasi penyaluran KUR.
Penyaluran KUR terbesar terjadi di Banjarmasin yang meningkat 29,8% secara year on year (yoy) dengan penyaluran mencapai Rp2,16 triliun kepada 15.884 debitur.
Penyaluran KUR di Kalsel didominasi sektor perdagangan sebanyak 46,25 persen atau Rp2,16 triliun kepada 33.903 debitur.
Sementara berdasarkan skema, penyaluran KUR di Kalsel didominasi mikro sebesar 65,19 persen atau Rp3,04 triliun kepada 67.386 debitur. (Iqnatius)
Editor: Yayu







