WARTABANJAR.COM, GAZA- Belum lama ini, puluhan tentara penjajah zionis Israel yang melakukan agresi darat di Gaza, Palestina dikabarkan terkena wabah penyakit disentri.
Disebutkan banyak dari tentara IDF (tentara nasional Israel) itu sakit perut dan diare.
Tentu saja hal tersebut membuat para pasukan penjajah zionis kesulitan di medan perang sehingga memudahkan para pejuang Hamas untuk menghabisi mereka.
Direktur Unit Penyakit Menular di Rumah Sakit Umum Asuta di Ashod, Israel, Tal Brosh mengatakan kondisi ini bisa mengakibatkan para tentara penjajah zionis tidak dapat turun ke medan perang.
Lantas, apa saja penyebabnya?
Berikut ini 5 pemicu yang menyebabkan wabah penyakit disentri menimpa tentara IDF.
1. Keracunan Makanan Mengandung Bakteri Shigella
Media Ibrani mengatakan wabah penyakit disentri yang dialami tentara Israel diakibatkan keracunan makanan.
Kasus keracunan makanan tersebut disebutkan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap para tentara zionis yang bertugas di Gaza, Palestina.
“Diare telah menyebar di antara pasukan pendudukan di selatan dan di daerah berkumpul, dan kemudian di antara tentara yang berperang di Gaza,” jelas Tal Brosh.
Kasus infeksi bakteri Shigella yang menyebabkan radang lambung dan usus ini merupakan penyakit yang sangat serius di kalangan penjajah zionis Israel di Gaza.
Infeksi Shigella dapat terjadi melalui kontak langsung antarindividu atau melalui makanan yang terkontaminasi.
2. Ketergantungan Makanan Donasi
Ada kabar yang mengatakan lonjakan kasus keracunan makanan terhadap tentara penjajah zionis Israel diakibatkan oleh meningkatnya ketergantungan pada sumbangan makanan yang disalurkan.
Sumbangan makanan itu diterima oleh pasukan IDF tanpa melalui prosedur pemeriksaan seperti biasa.
Disebutkan, sejak awal peperangan di Jalur Gaza, warga Israel secara konsisten menyumbangkan makanan untuk mendukung tentaranya di medan perang, namun kondisi penyimpanan makanan yang tidak memadai dapat memicu berkembangbiaknya bakteri Shigella sehingga menyebabkan radang lambung dan usus, serta demam.
“Siapa pun dapat berpartisipasi dalam menyiapkan makanan, mungkin sekelompok pelajar atau organisasi relawan. Tidak ada yang mengawasi penyiapan, pemasakan, atau pengemasan makanan ini, apalagi dikirim ke selatan tanpa alat pendingin,” ungkap Brosh lagi.






