WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Beberapa bulan terakhir ini terjadi penurunan kasus kekerasan perempuan dan anak ataupun kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kalsel. Hal ini tidak luput dari upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan agar kekerasan kepada perempuan dan anak, baik di lingkungan keluarga ataupun bermain. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3A-KB) Provinsi Kalsel, Adi Santoso mengatakan, jika mengacu pada laporan data yang masuk, kasus kekerasan di tahun 2023 adalah 361 kasus, terdiri dari 318 kasus terhadap perempuan dan 85 kasus pada laki-laki. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan 2022 lalu yang mencapai 616 jiwa. "Jika dirincikan, dari 616 kasus itu 532 kasus menimpa perempuan dan sisanya 139 kasus pada laki-laki,” katanya, dikutip dari laman Pemprov Kalsel, Minggu (14/10/2023). Saat ini, upaya penanganan untuk menekan kasus kekerasan perempuan dan anak bisa dikatakan mulai dimengerti masyarakat. “Artinya upaya kita seperti pemberian edukasi kepada keluarga-keluarga berhasil,” ucapnya lagi. Tidak hanya itu, dengan berbagai edukasi yang diberikan secara perlahan masyarakat juga mulai mengubah pola asuh anak menjadi lebih baik. Begitu juga keterlibatan masyarakat terhadap tindak kekerasan, turut menyumbang pengurangan kasus kekerasan selama ini. “Jadi, peran masyarakat melalui pembentukan lembaga Forum Anak Daerah yang punya dua peran yakni pelopor dan pelapor, serta kesadaran masyarakat untuk segera melapor juga sangat besar,” ujarnya. Menurutnya, peran Forum Anak Daerah untuk melaporkan dan memediasi kasus kekerasan juga turut memberikan peran besar agar penanganan korban kekerasan bisa berjalan dengan baik. Selain itu, kehadiran lembaga Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) berjalan bagus sehingga sejak dini sudah bisa mengidentifikasi potensi dari korban-korban tindak kekerasan. (MC Kalsel) Editor: Yayu