Komisi Rp191,6 M Tak Kunjung Dibayar, Mantan Manajer Tuntut Coldplay ke Pengadilan

Dibandingkan perjanjian untuk rilisan-rilisan sebelumnya, termasuk Everyday Life dan Music of the Spheres, Holmes mendapatkan komisi antara 8 persen hingga 13 persen.

Tak hanya itu, Holmes turut membeberkan hal-hal yang dikerjakan selain mengurus tur AS, Australia, dan Asia Coldplay.

Pekerjaan tersebut mencakup pengelolaan logistik untuk persiapan album, mengatur sesi rekaman di London, Aspen dan Jamaika, hingga bekerja sama dengan produser musik Max Martin, dan sampel lisensi.

Hal lain yang turut disoroti Dave Holmes adalah rencana Coldplay menurunkannya dari manajer menjadi kepala tur.

Oleh sebab itu, ia kini meminta Pengadilan Tinggi Inggris menyatakan kontrak terkait komisi untuk album ke-10 dan ke-11 ini sah, serta memerintahkan Coldplay memberikan komisi yang belum dibayarkan tersebut.

Sebagai alternatif, Holmes meminta ganti rugi untuk pekerjaan yang telah dia lakukan saat ini.

Pengacara menilai klaim ganti rugi itu mencapai lebih dari £10 juta atau sekitar Rp191,63 miliar.

Holmes turut menyinggung Coldplay mengancam akan menuntut balik dengan memberikan pembelaan.

Terpisah, perwakilan Coldplay menyatakan kontrak manajemen dengan Dave Holmes sudah berakhir sejak 2022 dan memutuskan tak memulai yang baru.

“Permasalahan ini di tangan pengacara Coldplay dan klaim (Holmes) dibantah dengan keras,” kata perwakilan band asal Inggris tersebut. (berbagai sumber)

Editor: Yayu