Ia menerangkan, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau di tahun 2023 diprediksi menjadi kemarau terpanas dibandingkan tahun sebelumnya.
“Apalagi fenomena El Nino yang terjadi selama musim kemarau, dapat memicu kekeringan. Lalu minimnya curah hujan, juga berpotensi meningkatkan jumlah titik api, sehingga makin rawan terjadinya karhutla serta kekeringan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Karhutla dinilai perlu diantisipasi pada saat musim panen, hal ini dikarenakan para petani setelah musim panen, biasanya melakukan pembakaran lahan untuk menyuburkan tanah serta mengusir hama penyakit yang ada di lapangan.
Oleh karena itu, pihaknya berharap di musim kemarau, para petani dapat lebih memahami suasana yang terjadi.
“Petani bisa saja tetap melakukan pembakaran lahan, namun dengan batasan-batasan tertentu, seperti pembakaran lahan hanya dalam suatu area tertentu dan diawasi serta dijaga agar pembakaran tidak menyasar area lain,” terangnya. (edj/mc)
Editor: Erna Djedi







