Namun, meski terjadi kecelakaan tersebut, Fiersa Besari merasa bersyukur. Jika tidak menabrak batu, mobil mereka mungkin akan terjun ke dalam jurang.
“Kami melihat bahwa di depan kami ada kegelapan dan jurang,” ujar Fiersa Besari.
Fiersa Besari menegaskan bahwa kecelakaan tersebut bukan sepenuhnya kesalahan sopir. Karena ia bergegas mengejar penerbangan untuk tampil di Java Jazz Festival.
“Berdasarkan cerita teman-teman, sopir memang beberapa kali merasakan kantuk. Tapi situasinya sulit, karena kami harus mengejar pesawat,” kata Fiersa Besari.
Meskipun demikian, Fiersa Besari meminta agar sopir yang menjadi penyebab kecelakaan itu tidak disalahkan atau dimarahi.
“Jangan marahi sopirnya, dia hanya mengantuk dan ini adalah musibah. Tidak ada yang menginginkan ini terjadi,” tandasnya.(aqu)
Editor Restu
.










