Sahabat Anshar itupun memberikan bantuan makanan kepada si yatim melalui Rasulullah saw. Untuk ketiga kalinya, kali ini datang seorang tawanan perang kepada Rasulullah saw yang juga bermaksud meminta makanan.
“Wahai Rasulullah, beri aku makanan, sungguh aku telah mengalami kepayahan”, kata tawaran perang itu penuh keyakinan akan segera diberi bantuan makanan oleh Rasulullah saw.
Lagi-lagi Rasulullah saw sedang tidak mempunyai cadangan makanan sehingga dapat membantu tawanan perang itu secara langsung. Pun demikian, Rasulullah saw tidak menolaknya.
Untuk ketiga kalinya Rasulullah saw menyanggupi untuk mencarikan donasi makanan kepada orang yang meminta bantuan kepada.
“Demi Allah tidak ada makanan yang ada bersamaku untuk diberikan kepadamu, tapi aku akan mengusahakannya”, jawab Rasulullah saw menyanggupinya.
Ketiga kalinya Rasulullah saw kemudian mendatangi kembali sepasang suami istri sahabat itu untuk meminta bantuannya.
Setelah menyampaikan maksud kedatangannya pada sahabat Anshar, lalu Rasulullah saw mendapat jawaban dari istrinya: “Ath’imhu wa asqih (Berilah tawanan perang itu makanan dan minuman”.
Nah, dari kisah ini dapat diambil pelajaran, bahwa Rasulullah saw dan sepasang sahabat suami istri rela membantu terhadap sesama secara totalitas.
Rasulullah saw yang kebetulan tidak mempunyai cadangan makanan, tidak menolak secara serta merta terhadap orang, anak yatim dan tawanan perang yang terpaksa meminta bantuan makanan kepada.
Tak hanya sekali, sampai tiga kali berturut-turut Rasulullah saw berkenan mengusahakannya untuk mencarikan bantuan kepada orang lain yang punya cadangan makanan.
Demikian pula sepasang sahabat suami istri juga rela memberi bantuan makanan secara totalitas.
Terhitung tiga kali diminta bantuan melalui Rasulullah saw, tiga kali pula mereka memberi bantuan.
Untuk diketahui, kisah ini disampaikan oleh Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an dari Abu Hamzah At-Tsumali, saat menafsirkan surat Al-Insan ayat 8-9, yang artinya: “(8) Dan Al-Abrar atau orang-orang yang berbudi luhur itu memberikan makanan padahal mereka menyukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan perang. (9) Niscaya kami memberi makan kalian karena Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dari kalian dan tidak mengharapkan kesyukuran kalian.”
Totalitas membantu terhadap sesama seperti yang diteladankan oleh Rasulullah dan sepasang sahabat suami istri ini tentu dapat dijadikan pelajaran untuk meningkatkan rasa empati kita untuk membantu terhadap sesama secara total.
Bila kebetulan kita tidak bisa membantu secara langsung, maka kita dapat melakukan kolaborasi dan kerjasama dengan pihak-pihak tertentu yang dapat bersama-sama memberi bantuan.
Utamanya di bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan. Hal ini juga seiring dengan teladan kedermawanan Rasulullah saw. Dalam kesempatan lain diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra: Artinya, “Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan; dan beliau paling dermawan di dalam bulan Ramadhan saat bertemu malaikat Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk tadarus Al-Qur’an bersamanya. Maka sungguh kedermawanan Rasulullah Saw dalam memberikan kebaikan melebihi angin yang berhembus.” (HR Al-Bukhari). Wallahu a’lam. (sumber NU Online)
Editor: Erna Djedi







