WARTABANJAR.COM, KANDAHAR - Momen langka terjadi pada pemimpin tertinggi Taliban di Afghanistan, Hibatullah Akhundzada.

Ia tiba-tiba muncul di depan umum mengucapkan selamat Idul Fitri 1443 H, Minggu (1/5/2022).

Kemunculannya ini boleh dibilang langka, karena selama enam tahun terakhir baru dua kali ini dua menunjukkan diri ke publik.

Dilansir Arab News, Akhundzada mengungkapkan pada Idul Fitri kali ini, Taliban telah mencapai kebebasan dan keamanan sejak kembali merebut kekuasaan tahun lalu.

Berbicara beberapa hari sejak bom menghancurkan masjid di Kabul, keamanan tinggi mengelilingi kehadiran Akhundzada.

“Selamat atas kemenangan, kebebasan dan kesuksesan,” ujarnya di depan ribuan Jemaah di Masjid Eidgah di selatan Kandahar.

“Selamat atas keamanan ini dan untuk sistem Islam,” ujarnya.

Menurut postingan media sosial, Akhundzada menyampaikan pidato singkatnya dari salah satu barisan depan jamaah di Kandahar tanpa menoleh ke arah kerumunan.

Pejabat Taliban juga tidak mengizinkan wartawan untuk mendekatinya.

Dua helikopter melayang-layang di atas masjid pada acara yang berlangsung selama dua jam itu.

Bagi Akhundzada ini menjadi kemunculan keduanya di depan umum sejak memimpin Taliban pada 2016.

Pada Oktober lalu, ia mengunjungi Masjid Darul Uloom Hakimiah di Kandahar, beradasarkan rekaman audio yang dikeluarkan oleh akun media sosial Taliban.

Profil Akhundzada yang tak banyak diketahui orang telah memicu spekulasi tentang perannya dalam pemerintahan baru Taliban, yang dibentuk setelah menguasai Kabul pada 15 Agustus, bahkan rumor kematiannya.

Profil publiknya sebagian besar terbatas pada pelepasan pesan selama hari libur Islam, dan Akhundzada diyakini menghabiskan sebagian besar waktunya di Kandahar.

Pada pesan yang disampaikan sebelum Idul Fitri pada Jumat (29/4/2022), Akhundzada tak mengungkapkan tentang darah yang tertumpah atas sejumlah insiden bom yang mengguncang Afghanistan selama Ramadan.

Ia malah memuji pembangunan Taliban atas tentara Islam nasional yang kuat dan kekuatan organisasi intelijennya.

Selama Ramadan tragedi bom mengguncang Afghanistan, dan kebanyakan diakui sebagai tanggung jawab ISIS. (*)

Editor: Erna Djedi