Perempuan asal Purworejo Jawa Tengah itu mengatakan berkomunikasi via teknologi tak bisa menggantikan keintiman seperti saat bertemu langsung.
“Ada gairah buat ‘tampil’ saat mau ketemu teman secara langsung, tetapi Zoom atau vcall mau enggak mau jadi pilihan paling rasional buat komunikasi sekarang. Butuh lebih terbiasa lagi mungkin ya,” ungkapnya.
Berkaca dari hal ini, menurut Ika, ada berbagai aspek hal yang sebenarnya tak dapat tergantikan dengan teknologi, salah satunya membaca bahasa tubuh lawan bicara.
Bagi sebagian orang, bisa membaca bahasa tubuh lawan bicara membuatnya bisa merespon lebih baik.
Di sisi lain, interaksi tatap muka apalagi di sebuah tempat yang menyenangkan dapat mempengaruhi kondisi psikologis Anda.
Latar tempat berbeda misalnya dari semula di kantor, menjadi kafe favorit sembari bertemu teman bisa membuat perbedaan pada suasana hati Anda.
“Sedangkan kalau online enggak bisa. Misalkan kita di Zoom meeting sama bos, keselnya minta ampun. Ketemu teman di Zoom juga, di meja yang sama. Itu mempengaruhi ke kondisi psikologis kita,”kata Ika yang aktif sebagai associate di Yayasan Pulih dan berpraktik di RS Pluit Jakarta Utara serta Psycoach Integra Cikini itu.
Ika memahami sebagian orang berpendapat, perubahan itu menakutkan dan memilih berada di kondisi yang familiar dengannya.
Dalam menggunakan masker saja misalnya, tak serta merta bisa langsung diterima semua orang.
Ada yang merasa sesak sehingga enggan mengenakanya.
Hal ini bahkan dialami Ika sendiri, tetapi kemauan belajar dan melatih diri menerima masker sebagai bagian dari hidup termasuk belajar mengatur napas bisa membantu.
Kini Ika bisa secara nyaman mengenakan masker ganda sembari melakukan konseling dengan pasiennya.
“Adaptasi adalah proses belajar. Kadang orang suka malas menghadapi itu karena merasa jadi ribet, tidak bisa bernapas. Kita mau tetap tidak peduli dalam arti yang penting nyamannya kita atau kenyamanan bersama,” tuturnya.
Tetapi sekali lagi, Anda kini berada dalam kondisi yang menuntut untuk beradaptasi termasuk untuk urusan berinteraksi dengan orang lain.
Adaptasi ini membutuhkan waktu dan dalam prosesnya bergantung pada kemauan masing-masing dari diri Anda sendiri. (ant)
Editor: Yayu Fathilal







