WARTABANJAR.COM, KUALA LUMPUR – Muhyiddin Yassin telah secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri (PM) Malaysia.
Muhyiddin yang baru menjabat sekitar 16,5 bulan memutuskan mundur usai mendapat desakan dari sana-sini buntut sejumlah kebijakan terkait pandemi COVID-19 memicu gejolak politik di negara ini.
Seperti dilansir AFP dan The Star, Senin (16/8/2021), Muhyiddin mengajukan pengunduran dirinya kepada Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah pada Senin (16/8) waktu setempat.
Pengunduran diri diajukan Muhyiddin setelah partai-partai anggota koalisi pemerintahannya mencabut dukungan dan upaya terakhirnya mempertahankan kekuasaan gagal dilakukan.
Usai menghadiri rapat kabinet, Muhyiddin yang berusia 74 tahun ini mendatangi Istana Negara untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Sultan Abdullah. Dia tercatat sebagai PM yang menjabat paling singkat dalam sejarah Malaysia.
Muhyiddin mengundurkan diri pada Senin, mengakhiri 17 bulan masa jabatan saat dirinya berjuang menghadapi pertikaian politik dan kritik yang mempertanyakan legitimasinya.
Sejak berkuasa pada Maret 2020, pemerintahan Muhyiddin seperti tak henti diguncang persoalan. Bukan hanya dari lawan politik, tapi juga oleh pandemi virus corona dan kemerosotan ekonomi yang menghantam Malaysia.
Pada Juli, Muhyiddin kehilangan dukungan dari sekutu-sekutu politiknya yang menguasai mayoritas suara di parlemen
Berikut perjalanan Muhyiddin sejak dia dilantik hingga mundur dari jabatan.
24 Februari 2020
PM Mahathir Mohamad mengundurkan diri setelah terjadi pertikaian dalam koalisi yang membuat partai yang dia pimpin bersama Muhyiddin menarik diri.
Raja Sultan Abdullah menunjuk kembali Mahathir sebagai pemimpin sementara.
29 Februari 2020
Setelah bertemu parlemen, raja menunjuk Muhyiddin sebagai perdana menteri berdasarkan penilaian bahwa dia didukung mayoritas anggota parlemen.
1 Maret 2020
Muhyiddin Yasin resmi dilantik sebagai perdana menteri.
13 Mei 2020
Ketua parlemen menunda voting mosi tidak percaya yang diajukan Mahathir dengan alasan negara perlu fokus pada penanganan pandemi.
13 Oktober 2020
Pemimpin oposisi Anwar Ibrahim bertemu dengan raja untuk membuktikan dirinya memiliki dukungan untuk membentuk pemerintahan. Istana mengatakan Anwar tidak menyebutkan nama-nama anggota parlemen yang mendukungnya.
23-26 Oktober 2020
Muhyiddin meminta raja mengumumkan keadaan darurat untuk mengendalikan virus corona. Anwar menyebutnya sebagai taktik untuk mempertahankan kekuasaan. Raja menolak permintaan Muhyiddin.
26 November 2020
Muhyiddin mendapatkan persetujuan parlemen untuk anggaran 2021 yang dipandang sebagai ujian pertama bagi dirinya di parlemen.







