Oleh : Harry Budiman (Praktisi Karate dan Beladiri Praktis)
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Semua orang ingin merasakan aman dan nyaman dalam beraktifitas keseharian. Namun kadang ketenangan dan kedamaian itu terganggu tatkala ada tindakan orang lain yang membahayakan diri kita.
Otomatis kita harus menyelamatkan diri. Salah satu caranya adalah dengan melakukan teknik-teknik pembelaan diri.
Bagi praktisi beladiri, tentu sudah punya skill dalam mengatasi masalah yang berpotensi kontak fisik. Namun bagaimana bagi orang awam? Pastinya harus punya pengetahuan tentang beladiri praktis agar bisa selamat.
Apa itu beladiri praktis? Yaitu teknik membeladiri yang simpel dan mudah diaplikasikan tanpa harus belajar dalam waktu lama dengan mengikuti aturan kurikulum serta ujian kenaikan tingkat atau sabuk, sebagaimana lazimnya kita bergabung dalam suatu perguruan seni beladiri.
Menurut hemat kami, beladiri praktis itu lebih menitikberatkan cara berpikir. Berpikir bagaimana caranya bisa selamat dengan didukung pengetahuan penggunaan anggota tubuh sebagai senjata.
Prinsipnya adalah saat ada ancaman maka hanya satu detik kita boleh kaget (karena itu hal alami dan manusiawi). Kemudian detik kedua kita sudah mampu berpikir, menganalisa, apa yang harus dilakukan.
Jika detik kedua masih kaget apalagi panik, maka kita susah untuk berpikir. Sebab yang ada hanya ketakutan dan akhirnya kita dikuasai oleh pelaku kejahatan.
Bagaimana supaya kita di detik kedua mudah berpikir? Jawabannya simpel. Sering latihan! Bikin adegan-adegan bentuk ancamanan, misal leher dicekik, tangan dipegang. Kemudian biasakan cepat berpikir dan lakukan tindakan beladiri. Apabila sering dilatih maka teknik-teknik itu tertanam di alam bawah sadar kita dan akan reaktif atau responsif saat ada aksi yang membahayakan.
Berikut teknik dasar dalam beladiri praktis yang selama ini kami ajarkan:
1. Hal pertama saat harus membeladiri adalah redam tindakan lawan. Jaga jarak dengan mundur atau menyamping sambil angkat kedua tangan sejajar bahu, posisi telapak tangan menghadap lawan. Secara verbal kita bisa berucap, “sabar, sabar.. Maaf kalau saya salah,” atau “sebentar, sebentar.. saya akan turuti keinginan Anda, saya akan ambilkan uang yang Anda minta.”













