Menjembatani Celah
Sementara itu, para pengembang vaksin tengah berupaya merancang pengganti yang bisa diterima bagi uji coba terkontrol-plasebo yang besar.
Beberapa pengembang bermaksud untuk menunjukkan bahwa vaksin mereka memicu respons antibodi, setidaknya sebagus vaksin lain yang telah diizinkan beredar.
Regulator kesehatan di Eropa dan Inggris bekerja sama dengan sejumlah perusahaan untuk menetapkan standar bagi penelitian “immunobridging”.
Badan pengawas obat dan makanan AS, FDA, menolak untuk menjawab apakah mereka akan menerima uji klinis seperti itu bagi vaksin-vaksin generasi berikutnya.
“Tak harus menjadi korelasi perlindungan, tapi kami harus… mencapai kriteria pra-spesifikasi yang tepat, sebab kami tak bisa mengambil risiko bahwa vaksin generasi kedua… memiliki efikasi yang rendah atau sedang,” kata pejabat vaksin FDA Dr. Marion Gruber kepada para regulator dalam pertemuan di WHO pada Mei. “Hal itu dapat merusak kepercayaan pada perusahaan vaksin.”
ReiThera Srl di Italia sedang mengembangkan vaksin dengan teknologi serupa AstraZeneca dan akan mencoba menunjukkan bahwa vaksin mereka sama efektifnya.
Perusahaan itu memiliki perjanjian prinsip untuk rancangan percobaan dengan regulator Eropa dan Inggris, kata direktur senior ReiThera Stefano Colloca kepada Reuters.
Uji klinis yang masif “tak lagi etis dan layak dilakukan di sebagian besar negara di dunia,” katanya.
Perusahaan bioteknologi Prancis Valneva dan Medigen Vaccine Biologics Corp di Taiwan berencana menguji vaksin mereka dengan vaksin AstraZeneca, meski keduanya dibuat dengan teknologi berbeda.







