Eropa Benua Pertama di Dunia Lewati Angka 50 Juta Kasus Covid-19

Menjembatani Celah

Sementara itu, para pengembang vaksin tengah berupaya merancang pengganti yang bisa diterima bagi uji coba terkontrol-plasebo yang besar.

Beberapa pengembang bermaksud untuk menunjukkan bahwa vaksin mereka memicu respons antibodi, setidaknya sebagus vaksin lain yang telah diizinkan beredar.

Regulator kesehatan di Eropa dan Inggris bekerja sama dengan sejumlah perusahaan untuk menetapkan standar bagi penelitian “immunobridging”.

Badan pengawas obat dan makanan AS, FDA, menolak untuk menjawab apakah mereka akan menerima uji klinis seperti itu bagi vaksin-vaksin generasi berikutnya.

“Tak harus menjadi korelasi perlindungan, tapi kami harus… mencapai kriteria pra-spesifikasi yang tepat, sebab kami tak bisa mengambil risiko bahwa vaksin generasi kedua… memiliki efikasi yang rendah atau sedang,” kata pejabat vaksin FDA Dr. Marion Gruber kepada para regulator dalam pertemuan di WHO pada Mei. “Hal itu dapat merusak kepercayaan pada perusahaan vaksin.”

ReiThera Srl di Italia sedang mengembangkan vaksin dengan teknologi serupa AstraZeneca dan akan mencoba menunjukkan bahwa vaksin mereka sama efektifnya.

Perusahaan itu memiliki perjanjian prinsip untuk rancangan percobaan dengan regulator Eropa dan Inggris, kata direktur senior ReiThera Stefano Colloca kepada Reuters.

Uji klinis yang masif “tak lagi etis dan layak dilakukan di sebagian besar negara di dunia,” katanya.

Perusahaan bioteknologi Prancis Valneva dan Medigen Vaccine Biologics Corp di Taiwan berencana menguji vaksin mereka dengan vaksin AstraZeneca, meski keduanya dibuat dengan teknologi berbeda.

Rancangan percobaan Valneva telah disetujui oleh regulator Inggris dan Medigen telah mendapat lampu hijau dari otoritas Taiwan.

Sanofi, yang bermitra dengan GlaxoSmithKline dan Medicago Kanada, tetap memilih untuk melakukan uji klinis terkontrol-plasebo yang melibatkan ribuan peserta, termasuk di negara-negara dengan tingkat penularannya tinggi dan ketersediaan vaksinnya lebih sedikit.

Perlu Vaksin Penguat?

Perburuan korelasi tengah berlangsung dari Inggris hingga AS dan Australia.

Para ilmuwan tengah membandingkan kadar antibodi penerima vaksin yang terinfeksi COVID-19 dengan yang tidak, untuk menemukan ambang batas perlindungan yang membuat perbedaan.

Peneliti Universitas Oxford mengatakan diperlukan upaya untuk mencari korelasi perlindungan bagi varian-varian virus yang terus bermunculan, seperti varian Delta yang sangat menular dan kini mendominasi kasus global.

Model antibodi yang mereka usulkan didasarkan pada sukarelawan uji klinis yang sebagian besar terinfeksi varian Alfa, yang terdeteksi pertama kali di Inggris.

Ilmuwan pemerintah AS sedang mempelajari infeksi pada orang yang mendapatkan vaksin Moderna. Juru bicara Moderna mengatakan perusahaannya juga tengah menganalisis hal itu dan akan mempublikasikan perkembangannya jika tersedia.

Patokan korelasi mungkin juga bisa mengindikasikan kapan dan apakah seseorang memerlukan vaksin penguat.

Pfizer telah mengajukan izin untuk pemberian dosis ketiga vaksinnya sebagai penguat, dengan menunjukkan bukti kadar antibodi penetralisir yang menurun.

Namun perusahaan itu menolak gagasan bahwa antibodi yang sama dapat digunakan untuk memprediksi efikasi vaksin.

“Tidak ada linimasa formal untuk mendapatkan korelasi perlindungan yang bersifat tetap,” kata juru bicara Pfizer. “Kami akan terus bekerja dengan komunitas ilmiah untuk lebih memahami respons kekebalan mana, apakah antibodi penetralisir atau yang lain, yang berkontribusi pada perlindungan.” (berbagai sumber)

Editor: Erna Djedi