“Kami juga sering buka puasa bersama, yang menjadi momen spesial, karena bertemu dengan beberapa rekan dari berbagai negara di dunia, yang mayoritas muslim. Seperti teman-teman dari Senegal, Mali dan beberapa negara Arab, semisal Palestina, Suriah, Mesir, Irak, Iran, Yordania, itu semua kita kumpul. Termasuk teman-teman dari India, Pakistan dan Malaysia,” ungkapnya.

Di tengah kehidupan komunitas muslim Rusia, Amy menjelaskan bahwa diaspora muslim Indonesia juga ikut memberi kontribusi.

“Kami juga mengajar mengaji di sini, Alhamdulillah ada beberapa teman santri yang sedang belajar di sini, dekat dengan beberapa mufti, baik dari Tatarstan juga mengajar mengaji di beberapa kota di Rusia,” sebutnya.

Amy yang juga Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Rusia itu menjelaskan diaspora muslim Indonesia sering melakukan kunjungan ke beberapa sekolah mengajarkan Islam dan budaya asal Tanah Air.

“Kebetulan, ada satu anak Indonesia yang pernah juara MTQ, dan di sini kemudian ikut mengajar mengaji. Alhamdulillah, bisa bermanfaat di Rusia. Jadi kami mengajar mengaji anak-anak Rusia juga. Beberapa kali, saya dan teman-teman mengunjungi sekolah-sekolah dan berbagi cerita, bagaimana Indonesia, juga kami mendengarkan anak-anak mengaji. Di sini juga ada madrasah hafalan al-Quran, baik di kota Kazan ataupun di kawasan Kaukus utara,” katanya.

Inamul Hasan, mahasiswa Indonesia di Rusia, punya kisah menarik tentang komunitas muslim di negeri itu.

Ia mengaku muslim Rusia menganggap orang-orang Indonesia sebagai saudara.

“Tradisi mereka, selain karena masih minoritas, persaudaraan di antara mereka sangat kental. Terutama orang Selatan, yakni komunitas muslim terbesar di Rusia. Kalau Anda punya satu saja seorang kawan dari Selatan, dan Anda, misal bertemu mereka di jalan atau di tempat umum maka, semua anggota kelompok mereka akan sama menyambut Anda sebagai teman,” kata Inamul Hasan. (ant)

Editor: Yayu Fathilal