Islam di Rusia Kembali Semarak di Masa Pandemi COVID-19, Indahnya Buka Puasa Bareng di Bulan Ramadhan 1442 Hijriah
Amy Maulana, mahasiswa doktoral di Volgograd State University Rusia, mengungkapkan betapa ia menikmati kehidupan umat Islam di negeri itu.
“Islam di Rusia merupakan agama terbesar setelah Kristen Ortodox. Jumlahnya ada sekitar 30 juta dari total penduduk Rusia, kemudian terdiri dari 40 kelompok etnis muslim yang tersebar dari kawasan Rusia," katanya.
Ia menambahkan bahwa Islam di Rusia secara umum ahlussunnah, sebagian besar bermadzhab Hanafi.
"Nah, khusus di kawasan Kaukasia Utara bermadzhab Syafii, yang mirip di Indonesia. Kemudian, berkembang juga tarekat Naqsyabandiah di kawasan Kaukasia Utara. Mereka ini bukan imigran dari Timur Tengah, tapi dari muslim dari nenek moyang mereka,” jelas Amy, yang merupakan Ketua PCI Nahdlatul Ulama Federasi Rusia dan Eropa Utara (FREU).
Amy menjelaskan bahwa saat ini di Rusia, kehidupan sudah mulai berlangsung normal kembali.
“Pemerintah Rusia sudah mempersilakan komunitas muslim untuk melaksanakan ibadah, tidak ada halangan atau karantina dan sebagainya, namun di tempat umum semisal di Universitas, harus menggunakan masker. Begitu pula di kendaraan umum wajib pakai masker. Di Rusia sekarang ini, saya sudah jarang melihat orang pakai masker. Mungkin ini karena faktor semakin turunnya kasus COVID di Rusia dan juga gencarnya vaksinasi Sputnik,” katanya.
Menurut Amy Ramadhan menjadi ruang untuk berkumpul dengan teman-teman muslim dari lintas negara. “Relasi komunitas muslim Indonesia dengan muslim Rusia sangat dekat, semisal di kota-kota seperti Kazan, teman-teman sering ikut acara buka puasa bersama. Kita dekat dengan teman-teman muslim yang berasal dari Asia Tengah, semisal Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan dan sebagainya. Kita juga dekat dengan muslim Rusia dari berbagai etnis di sini.”
Ia menambahkan, mahasiswa muslim dari berbagai negara Afrika dan Asia juga menjadikan momentum buka bersama untuk saling mengenal.